Tumbang, Rebusan Singkong, dan Gula Merah : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » kuliner » Tumbang » Tumbang, Rebusan Singkong, dan Gula Merah

Tumbang, Rebusan Singkong, dan Gula Merah

(4646 Views) Desember 3, 2014 12:25 pm | Published by | No comment



Makanan dari singkong bermacam ragam, tumbang salah satu, tapi tidak banyak pedagang yang menjual, satu orang yang berjualan di pasar atas. Penjual tumbang berjualan dekat penjual pisang dijepit (orang Bukittinggi sebut pisang Kapik).

Kacimuih dan tumbang. Tumbang dengan gula merah di bagian atasnya.

Saat ini, tumbang dijual berbentuk bulat dan diberi gula merah. Singkong ditumbuk sampai halus, diberi garam lalu direbus, dimasukkan ke dalam cetakan sehingga berbentuk bulat. Kalau ada pembeli, penjual akan memberi taburan kelapa. Taburan kelapa ditambahkan belakangan agar terlihat segar dan tidak cepat basi. Harga tumbang Rp. 10.000

Bentuk tumbang yang ada saat ini berbeda dengan dulu. Dulu, tahun 80-an, tumbang berbentuk bongkahan yang besar. dimasukkan ke dalam wadah dari bambu (biasa disebut katidiang) yang dilapisi daun pisang. Jika ada pembeli, penjual mengiris tumbang dengan ketebalan 1 cm, beberapa iris, sesuai pesanan. Irisan tumbang diletakkan ke dalam daun pisang, tapi sebelumnya dilumuri dengan gula merah yang ada di sudut katidiang.

Cara penjual melumuri irisan tumbang dengan gula merah, itu dramatis. Gula merah kental ditempelkan ke irisan tumbang dan penjual menahan sebentar agar tetesan gula merah berhenti mengalir. Setelah itu diletakkan dengan rapi di atas daun pisang, ditaburi kelapa, lalu dibungkus dan disemat dengan lidi bambu.




Hati-hati membawa pulang, pastikan sisi bagian atas tetap berada di bagian atas, tidak terbalik, untuk menjaga agar tetesan gula merah tidak mengalir kemana-mana. Tumbang harus segera dimakan, agar tidak basi.

Pada bulan puasa, ada penjual tumbang di pasar bulan Ramadhan, (Pasa Pabukoan), hanya satu penjual. Tumbang seharusnya bisa dikembangkan menjadi makanan khas Bukittinggi, dengan kemasan yang lebih menarik, misalnya bentuk kecil, harga murah dan penjual berada di lokasi yang mudah terlihat, sehingga setiap orang ingin mencoba.


This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Tumbang, Rebusan Singkong, dan Gula Merah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>