Tradisi Malongge, Berburu Duren di Nagari Koto Malintang, Maninjau : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » budaya » Tradisi Malongge » Tradisi Malongge, Berburu Duren di Nagari Koto Malintang, Maninjau

Tradisi Malongge, Berburu Duren di Nagari Koto Malintang, Maninjau

(1476 Views) September 16, 2016 10:32 pm | Published by | No comment



Koto Malintang, di dekat Danau Maninjau, Kabupaten Agam merupakan salah satu nagari penghasil durian di Sumatera Barat. Durian dari nagari ini dibawa ke Bukittinggi, Padang, dan kota-kota lain di Indonesia. Di Bukittinggi, durian dari Koto Malintang dapat ditemukan di Pasar Banto. Semua durian dari nagari di Sumatera Barat yang dijual di Bukittinggi dapat ditemukan di sana.




Durian di pasar bawah dan pasar banto
Sumber foto : Zulkifli

Ada salah satu tradisi warga nagari Koto Malingtang, yaitu tradisi Malongge. Warga yang tidak mempunyai kebun durian dapat mengambil durian jatuh pada waktu yang telah ditentukan. Sebelum mengambil durian, mereka harus mendengarkan aturan yang ditetapkan ninik mamak atau orang yang dituakan sebelum mengambil durian tersebut. Mereka dapat mengambil durian jatuh dari kebun mana saja untuk dimakan bersama keluarga (jika berlebih dapat dijual) antara pukul 4:00-6:00 WIB. Tidak boleh memetik durian (memetik durian yang belum matang sempurna). Jika waktu sudah menunjukkan pukul 6:00 WIB, warga harus segera menghentikan kegiatan mengambil durian jatuh, orang yang dituakan akan mengingatkan bahwa waktu Malongge telah selesai.

Aturan bagi pemilik kebun durian, mereka tidak diperkenankan memetik durian dari kebun sendiri (durian yang dijual hanya durian jatuh), karena dapat menurunkan reputasi kualitas durian Koto Malintang yang terkenal. Durian yang dipetik tidak sebaik durian jatuh.



Pemilik yang memetik durian akan mendapatkan sanksi dari masyarakat, ninik mamak, dan kepala adat, dengan cara mematikan pohon durian. Kulit pohon durian dikuliti, sehingga pohon durian mati. Selain itu, pemilik pohon durian tidak diperbolehkan menembang pohon durian, jika menebang pohon durian pemiliknya akan mendapatkan sanksi. Hal ini menyebabkan jumlah pohon durian di nagari ini bertambah.

Durian mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Ini akan memberikan dampak sosial yang besar antara pemilik kebun durian dan warga yang tidak mempunyai kebun durian, salah satunya terjadi banyak pencurian durian. Tradisi Malongge tidak hanya menghindari dampak sosial tersebut, tapi juga mempererat silaturahmi antara pemilik kebun durian dengan warga sekitar. Tradisi ini berasal dari kebijakan para ninik mamak Nagari Koto Malintang.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Tradisi Malongge, Berburu Duren di Nagari Koto Malintang, Maninjau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>