Tapian (Tempat Mandi) Dalam Adat Minang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » arsitektur » Tapian (Tempat Mandi) Dalam Adat Minang » Tapian (Tempat Mandi) Dalam Adat Minang

Tapian (Tempat Mandi) Dalam Adat Minang

(254 Views) Januari 22, 2020 10:43 am | Published by | No comment

Tapian berarti pinggir sungai untuk tempat mandi, cuci dan kakus. Tapian (tempat mandi) untuk wanita dan pria dipisah. Tapian itu ada yang bersifat khusus dan umum, yang bersifat khusus dimiliki oleh setiap rumah tangga, sedangkan bersifat umum, tapian yang dapat digunakan oleh semua orang. Kebutuhan akan air oleh masyarakat dijadikan salah satu syarat dalam suatu nagari.



Air tapian berasal dari Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, aliran sungai besar atau kecil dari kedua gunung itu yang dijadikan tempat tapian. Lokasi tapian disesuaikan dengan kondisi tempat aliran sungai tersebut. Ada beberapa syarat antara lain; tertutup dari jalan (labuah), mudah dicapai, aman (dari longsor), ada batu-batu besar ( untuk duduk, meletakkan baju, menjemur baju sementara, dan tempat untuk istirahat setelah selesai mandi dan mencuci).

Ada tapian yang terletak di dekat sawah, tapi ada juga yang dekat semak yang tidak terlalu lebat. Tapian dekat sawah, selain digunakan untuk tempat mandi, cuci, dan kakus. Ada mushala kecil. Mushala untuk 5-6 orang. Setelah petani selesai bekerja, mereka mandi dan Salat . Mushala ini hanya digunakan untuk Salat, tidak digunakan untuk istirahat, istirahat dilakukan di dangau (gubuak/saung).

Tapian yang asli tidak ada fasilitas apapun untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus. Lokasi untuk ketiga keperluan ini disesuaikan dengan lokasi tapian. Untuk mandi dan cuci berada dalam satu lokasi, sedangkan untuk kakus terpisah, tersembunyi.

ngarai sianok dari gardu pandang taman panorama.

Ada sebagian tapian yang ditambahkan pincuran (lubang untuk mengalirkan air) sehingga air mudah digunakan untuk mandi dan mencuci.

Tapian akan terpelihara jika terus digunakan oleh kaum. Sebagian ada tapian yang sudah tidak digunakan/tidak terurus, karena ada tapian lain yang lebih aman, dekat dari pemukiman, atau air sudah masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, tapian yang terletak di sawah, akan terus digunakan, walaupun air sudah masuk ke dalam rumah, seperti tapian yang disebut lubuak, di jorong pahambatan Balingka. Tapian ini terletak di pinggir sawah, masih digunakan oleh warga kaum untuk mencuci, karena aliran air yang masuk ke dalam rumah kecil, sedangkan mencuci membutuhkan air yang banyak.




This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Tapian (Tempat Mandi) Dalam Adat Minang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>