Tambua dan Tansa : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » budaya » Tambua dan Tansa » Tambua dan Tansa

Tambua dan Tansa

(1422 Views) Agustus 4, 2017 9:00 am | Published by | No comment



Tahun 2000 pada acara resepsi pernikahan saudara sepupu saya di salah satu gedung di Jakarta, terdengar suara tabuhan bersahut-sahutan, ramai, dan suaranya mengema ke seluruh ruangan. Tak lama muncul 5 orang pemain tambua. Irama tambua yang mereka mainkan saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Ini pertama kali saya menyaksikan pertunjukan tambua.

Tambua merupakan salah satu alat musik khas Minang yang ditabuh dengan pemukul kayu yang disebut panokok. Tambua (tambur) terbuat dari kayu dengan tinggi 60-70 cm, bagian atas dan bawah ditutup dengan kulit kambing, diameter kayu kira-kira 50 cm, ketebalan dinding tambur 1-1.5 cm. Tambua terbuat dari kayu bayua (tambua seperti gendang, tapi lebih bulat). Dalam satu grup tambua terdapat 6-10 tambua dengan diameter tambua yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan suara yang berbeda-beda pula. Dalam satu grup tambua terdapat satu induak tambua (ibu tandur).




Instrumen yang mendampingi pertunjukan tambua antara lain tansa atau tasa. Tansa seperti genderang tipis yang terbuat dari mika/alumunium/seng. Dalam 6 tambua terdapat satu pemain tansa, sedangkan 10 tambua terdapat 2 pemain tansa. Pertunjugan tambua dan tansa dilaksanakan pada acara adat atau mengantar rombongan penganten Minang.

Seni tambua masuk ke Sumatera Barat seiring masuknya agama Islam dari pedagang Timur Tengah dan India ke Pasaman dan Maninjau. Pada kedua Nagari ini seni tambua berkembang, karena tidak semua nagari mempunyai kesenian tambua.

Di Maninjau pertunjukan tambua menghadirkan instrumen talempong pacik (dipegang). Instrumen talempong yang dipegang (dua talempong dipegang dengan tangan kiri, sedangkan pemukul dipegang oleh tangan kanan). Selain talempong, ada alat tiup pupuik dari batang padi.

Pemain tambua menggunakan baju destar, berwarna hitam, celana galembong, dan ada tali yang mengikat tambua ke badan (lengan pemain). Dalam memainkan tambua membutuhkan energi/kekuatan untuk membawa dan memukul tambua, karena itu pemain tambua harus memiliki stamina yang prima. Tidak ada pemain tambua wanita semua laki-laki. Sebelum pertunjukan tambua di mulai, pemimpin tambua memimpin doa.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Tambua dan Tansa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>