Sejarah Pasar Lereng dan Pasar Maco (Ikan Kering) : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » sejarah » Sejarah Pasar Lereng dan Pasar Maco (Ikan Kering) » Sejarah Pasar Lereng dan Pasar Maco (Ikan Kering)

Sejarah Pasar Lereng dan Pasar Maco (Ikan Kering)

(2192 Views) Desember 4, 2015 10:03 pm | Published by | No comment



Semakin lama, penjual dan pembeli di atas bukit itu semakin banyak. Pemerintah Belanda menyadari loih galuang, bangunan pasar yang dibangun Belanda di atas bukit tertinggi itu tidak akan mampu menampung kegiatan jual beli. Lahan di atas bukit itu terbatas dan tidak mencukupi untuk pembangunan pasar baru. Maka, dibangun pasar lain yang lokasinya menyebar di sekitar pasar atas.

Tahun 1896 dibangun sebuah loods (loih) di bagian Timur, loods itu diperuntukkan bagi penjual kain, kelontong, dan sejenisnya.

Pada tahun 1900 dibangun lagi sebuah loods yang khusus untuk menjual daging dan ikan basah (ikan air tawar dan ikan laut). Loods itu dibangun di pinggang bukit sebelah Timur, supaya kotoran dan air limbah dapat dialirkan langsung ke selokan (bandar) yang mengalir di kaki bukit itu. Lokasi terletak di kemiringan, maka pasar itu dinamakan oleh masyarakat dengan Pasar Teleng (Miring).




Kondisi pasar lereng saat ini, pagi hari lapak PKL ditutup terpal. salah satu rumah lama di pasar lereng

Saat ini, pasar teleng masih ada, semakin banyak penjual kaki lima yang berjualan di pasar teleng. Lahan yang terbatas menyebabkan penjual berjualan menggunakan sebagian badan jalan kendaraan. Akan tetapi, jejak peninggalan bangunan Belanda, sulit ditemukan, karena sebagian bangunan hancur karena gempa, dan banyak bangunan tambahan.

Jika menilik sebagian bangunan di sekitar pasar lereng, saya memperkirakan loods yang dibangun Belanda dimulai dari toko Rima sampai toko Java-toko di bagian paling ujung-. Tahun 80-an, tipe bangunan toko di sepanjang jalur ini masih terlihat seperti bangunan tua, terutama toko Java, tidak banyak bangunan yang diubah.

Selain pasar teleng, antara tahun 1901-1909, pada masa pemerintahan Controleur Oud Agam, L.C. Westenenk. Lokasi di sekitar pusat pasar diperluas dengan mendatarkan gundukan tanah bukit di sekitar. Warung yang terletak tidak teratur di sekitar pusat pasar dirobohkan, dan ditata dengan membangun beberapa loods, dengan mengikuti topografis Bukittinggi yang berbukit itu.

Loods yang dibangun sebanyak 6 buah. Masing-masing tiga loods dibangun bersebelahan dengan Loih Galuang, satu loods dibangun di sebelah Timur Laut yang terletak lebih rendah. Loods ini dibangun khusus untuk menampung penjual ikan kering dan dinamakan dengan Loih Maco (ikan kering), sehingga pasar Bukittinggi menjadi bertingkat-tingkat.

Penjual ikan kering di pasar bawah (penjual maco).

Loods maco itu, sekarang terkenal dengan nama pasar putih, yang menjual baju bekas dari luar negeri. Satu dua toko masih menjual ikan kering, sebagian besar penjual ikan kering pindah ke pasar bawah. Tahun 80-an, masih banyak penjual ikan kering di pasar itu, belum ada penjual baju bekas. Penjual baju bekas mulai berjualan awal 2000-an.

Untuk menutupi biaya perbaikan dan pembangunan pasar Bukittinggi yang relatif besar itu, Controleur Westenenk meninjam uang kepada N.I. Escompto Maatschappij sebanyak f.12 .000’-. Sebagai jaminan, diborohkan pasar Bukittinggi.



 penjual-ikan-kering-di-pasar-bawah
penjual-ikan-kering-di-pasar-bawah
This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Sejarah Pasar Lereng dan Pasar Maco (Ikan Kering)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>