Sejarah Pasar Bawah : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » sejarah » Sejarah Pasar Bawah » Sejarah Pasar Bawah

Sejarah Pasar Bawah

(1484 Views) Desember 22, 2015 11:17 pm | Published by | 2 Comments



Saat ini, pasar bawah merupakan pasar yang menjual sayur, buah-buahan, beras, kelapa, ikan, dan bahan makanan terlengkap di Bukittinggi. Kawasan itu mempunyai lahan yang datar, menyebabkan penjual terus bertambah menempati lahan yang kosong.

Bagi penjual yang sudah mempunyai tempat berjualan sendiri (lapak), mereka berjualan dari pagi sampai sore. Mereka mengumpulkan sayuran dari petani dan menjual di lapak mereka.

Akan tetapi, banyak penjual yang tidak mempunyai tempat berjualan sendiri, mereka berjualan di pinggir jalan, atau menempati tempat yang kosong di jalur jalan, terutama, penjual/petani yang jumlah sayur sedikit. Setelah panen di pagi hari, segera membawa hasil panen ke pasar bawah.




Mereka berasal dari desa-desa di sekitar kota Bukittinggi. Mereka membawa sayuran dengan menggunakan angkutan umum. Sayuran yang tidak laku ditinggal, sehingga banyak sampah sayuran menumpuk di pasar bawah.

Pasar bawah dibangun oleh pemerintah Belanda, karena lahan di pasar atas terbatas, sedangkan penjual semakin banyak. Belanda membuat dua loods di kaki bukit sebelah Timur Laut. Kedua loods yang dibangun sejajar membujur dari Utara ke Selatan. Kedua loods yang dibuat Belanda masih dimanfaatkan oleh penjual di pasar Bawah, dan ditambah beberapa loods untuk mengakomodasi penjual.

Pada masa Belanda, pasar bawah hanya menjual sayuran, kelapa, beras, dan buah-buahan. Perkembangan pasar yang semakin pesat, menyebabkan penjual daging dan ikan kering yang ditempatkan di pasar lereng dipindahkan ke pasar bawah. Lokasi loods daging yang di pasar lereng dijadikan tempat penjual nasi kapau.

penjual sayuran di pasar bawah

 

 

 

 

 

 

 

 

Belanda membangun rumah potong ternak (sapi) di sisi sebelah Selatan. Sampai saat ini masih ada bangunan rumah potong itu. Rumah potong terletak persis di pinggir anak sungai, sehingga mudah membuang kotoran dan sisa penyembelihan hewan. Rumah potong itu tidak digunakan lagi untuk memotong ternak sapi untuk dijual di pasar bawah, pemotongan ternak dilakukan di luar kota.

Belanda mendirikan Pasar Ternak, sekitar 500 m ke arah Barat. Sekarang, pasar ternak itu, sudah tidak ada.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

2 Komentar for Sejarah Pasar Bawah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>