Sejarah Pasar Atas (Pasa Ateh) : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » sejarah » Sejarah Pasar Atas (Pasa Ateh) » Sejarah Pasar Atas (Pasa Ateh)

Sejarah Pasar Atas (Pasa Ateh)

(1828 Views) Desember 5, 2015 10:05 pm | Published by | No comment

Bukittinggi berawal dari pasar yang diadakan oleh penghulu Kurai di Bukit Nan Tinggi (berarti bukit yang paling tinggi). Kawasan itu terdiri dari beberapa bukit, penghulu Kurai memilih bukit yang paling tinggi di kawasan itu. Pasar diadakan tiap hari Sabtu. Tiap hari Sabtu semua penjual dan pembeli dari nagari sekitar kanagarian Kurai melakukan transaksi jual beli. Mereka berjalan kaki atau menggunakan bendi untuk membawa barang dagangan ke bukit yang paling tinggi itu. Kota Bukittinggi dan Nagari Kurai

Bukit Nan Tinggi yang disingkat menjadi Bukittinggi digunakan untuk menyebut nama pasar, masyarakat, dan Nagari Kurai. Semakin lama, pasar semakin ramai, hari pasar ditambah menjadi hari Rabu. Sampai sekarang, hari Pasar, (masyarakat lokal menyebut hari pakan) tidak berubah, tetap hari Rabu dan Sabtu (hari saat pembeli dan penjual paling ramai di Bukittinggi).




pasar atas yang dibangun oleh penghulu kurai.

Untuk meletakkan barang dagangan, penjual membuat kerangka dari kayu, bagian atas dibiarkan terbuka, sedang bagian bawah diberi dinding anyaman bambu, beratap rumbia, atau daun ilalang untuk tempat berjualan (lapak). Lapak ini hanya ditempati setiap hari Rabu dan Sabtu. Selain hari Rabu dan Sabtu, dibiarkan kosong. Penjual yang tidak mempunyai lapak, biasanya mengelar dagangan di atas daun pisang. atau di dalam katidiang (bakul).

Tahun 1890, Belanda mengembangkan pasar yang telah dimulai oleh penghulu Kurai dengan membangun Loods (deretan toko). Agar lahan pasar menjadi lebih luas, pemerintah Belanda meratakan sebagian bukit, untuk didirikan bangunan. Lalu membuat jalan dan jalur drainase (selokan), agar air tidak tergenang.

Orang Bukitttinggi menyebutnya, loih, dengan rancangan atap melengkung (setengah lingkaran), sehingga disebut Loih Galuang. Letak loih galuang berada di pasar atas saat ini.



Semakin lama penjual yang membuka kios di sekitar loih galuang semakin banyak. Tahun 1923, Pemerintah Belanda merobohkan kios-kios yang terdapat di sisi Barat dan Timur loih galuang dan membangun delapan blok rumah toko.

Di sebelah Barat terdiri dari empat 4 (empat) blok sejajar, dinamakan oleh masyarakat Muka Pasar (Rumah Makan Simpang Raya). Sedangkan, di sebelah Timur terdiri dari 4 (empat) blok berjajar dua, disebut Belakang Pasar (sebagian rumah toko di belakang pasar, roboh karena gempa yang terjadi di Bukittinggi tahun 2000-an.  Muka Pasar dan Belakang Pasar di Pasar Atas Bukittinggi

Belakang pasar di pasar atas

Sekarang pasar atas menjadi pasar yang menjual mukena, baju koko, Baju Sulaman, songket, dan makanan khas Bukittinggi. Pasar Atas : Pasar Mukena, Baju Sulaman, Songket.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Sejarah Pasar Atas (Pasa Ateh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>