Randai : Perpaduan Seni Drama, Seni Suara, Seni Tari, dan Seni Musik : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » budaya » Randai » Randai : Perpaduan Seni Drama, Seni Suara, Seni Tari, dan Seni Musik

Randai : Perpaduan Seni Drama, Seni Suara, Seni Tari, dan Seni Musik

(3396 Views) Februari 5, 2016 7:00 am | Published by | No comment



Beberapa waktu yang lalu ada yang memposting pertunjukan randai untuk umum di jam gadang, yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran di Bukittinggi. Pertunjukan randai di jam gadang tidak dilaksanakan secara rutin. Biasa, pertunjukan randai diadakan, jika ada kegiatan kesenian di Medan Nan Bapaneh (amphitheather di Kebun Binatang).

Randai merupakan perpaduan antara seni drama, seni suara, seni tari, dan seni musik, seperti pertunjukan theater. Pertunjukan randai, dulu diadakan di lapangan terbuka atau di depan rumah gadang. Randai membawakan cerita rakyat, dalam bahasa Minang disebut Kaba.

Cerita dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian terbagi atas beberapa adegan. Setiap adegannya menampilkan dialog antar pelaku. Di antara adegan tersebut di tampilkan dendang dengan diiringi tarian dalam bentuk melingkar.




randai di hotel pusako pada saat reuni SMA 1 Bukittinggi angkatan 1977.

Pemain drama melakukan dialog dalam bahasa Minangkabau. Bahasa yang digunakan dalam bentuk pantun, berirama, dan kadang-kadang mengandung kiasan. Bahasa kiasan, menyampaikan maksud tidak secara langsung. Kata yang mengandung unsur keindahan tapi mempunyai tujuan. Kata kiasan masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari di Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Selain bahasa Kiasan terdapat dialog berupa pantun,

Contoh :
Anak :
ampunkan denai mandeh kanduang,
satu salah baribu ampun,
den susun jari nan sapuluah,
den takuakan kapalo nan satu,
denai datang maadok mandeh.
Apokah sabab denai mandeh panggia,
curai papahkan bakeh denai,
nak sanang di dalam hati,
nak sajuak di dalam kiro-kiro.

Ibu:
anak kanduang sibiran tulang,
ubek jariah palarai damam,
jarek samato badan diri.
Makonyo anak denai panggia,
ado kato nan ka den sampaikan,
ado rundiangan nan ka den paiyokan.
Sabab kan baa dek baitu,
anak batambah gadang juo.

Dialog tersebut, dilakukan dengan intonasi yang tepat dan mimik yang cocok.

Dialog di dalam randai diselingi dengan dendang. Dendang menyampaikan pesan berisi pantun, petuah adat, dan hikayat dalam bentuk nyanyian, diiringi saluang. Dendang di sampaikan sambil melingkar dalam berbagai irama lagu klasik Minangkabau. Tempo dendang disesuaikan dengan gerakan tari.

Sumber : http://www.kabaranah.com/2014/12/randai-minangkabau.html



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Randai : Perpaduan Seni Drama, Seni Suara, Seni Tari, dan Seni Musik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>