Picai Sikal di Panorama, Pecel ala Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » kuliner » Picai Sikal di Panorama Pecel ala Bukittinggi » Picai Sikal di Panorama, Pecel ala Bukittinggi

Picai Sikal di Panorama, Pecel ala Bukittinggi

(1503 Views) November 5, 2014 10:54 pm | Published by | No comment



Saat ini, Pical Sikai dikelola oleh generasi ke dua, dan rasa pical masih tetap sama dari waktu ke waktu. Makanan yang dijual di warung itu, masih tetap sama : pical, tape (tapai hitam) dan lemang, kadang-kadang tersedia agar-agar khas minang disajikan di dalam gelas. Tidak ada makanan tambahan lain. Kalau liburan ke Bukittinggi, usahakan mampir, lokasinya di Panorama.

Rumah makan pical sikai di Panorama

Pical, hampir sama dengan pecel di Jawa, sayuran rebus yang disiram bumbu kacang. Bedanya, pada jenis sayuran dan bumbu kacang. Pecel jenis sayurannya berupa kacang panjang, toge, mentimun, daun singkong, daun kemangi dan bumbu kacang menggunakan kencur. Sedangkan pical, jenis sayurannya : jantung pisang, rebung, daun singkong (direbus) ditambah irisan kol, sebagai pelengkap kerupuk sanjai (singkong) dan kerupuk merah disiram bumbu kacang. Bumbu kacangnya tidak terasa kencur. Masakan minang jarang yang menggunakan kencur. Sikai (Chairiah), nama penjual yang pertama.

picai sikai Bukittinggi

Sayuran terletak di atas meja di depan pembeli, di atas nampan beralas daun pisang. Jika menginginkan jenis sayuran tertentu, cukup mengatakan sebelum disajikan ke dalam piring. Setelah itu disiram dengan bumbu kacang yang berada di dalam panci besar. Sayurannya selalu baru dan segar, begitu habis, direbus sayuran yang baru dan masih segar. Saat saya ke sana, salah satu penjual sedang mengiris kol tipis-tipis.

Cara penyajian tetap sama, masih menggunakan panci besar tempat bumbu kacang. Ada foto Chairiah (Sikai) tahun 50 an yang terpampang di dinding, sedang menyajikan pical ke dalam piring, di depannya ada sayur di dalam nampan dan panci bumbu kacang, ada sirup. Bangunan, tempat berjualan, masih terbuat dari bambu.



Harga pical pada hari Lebaran naik seribu rupiah. Awalnya saya tidak sadar, kenapa tiba-tiba sepuluh hari setelah lebaran, harga menjadi turun. Khusus libur hari lebaran dan libur kenaikan kelas, harga makanan naik, termasuk rujak.

Saat saya berkunjung lebaran ke-dua, pembeli antri di luar mendapatkan kursi. Mereka datang rombongan 5-10 orang, dewasa dan anak-anak. Biasanya, saya datang hari biasa, sepi. Bulan ramadan buka, tapi untuk dibawa pulang, sudah dibungkus-bungkus di atas meja. Harga satu bungkus Rp. 10.000 (Agustus 2014)

penjual bercerita, bahwa setiap keluarga (dari keluarga Sikai) bergantian berjualan, misalnya 3 bulan pertama keluarga A, 3 bulan berikutnya keluarga B. Jadi wajar, kalau setiap ke sana tidak menemukan penjual yang sama. Mereka tinggal di dekat warung.

Artikel Terkait:

1.
2. Info Kuliner Lemang Tape
3. Wisata Kuliner Menelusuri Rumah Makan di Bukittinggi



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Picai Sikal di Panorama, Pecel ala Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>