Pernikahan Adat Koto Gadang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Nagari di Agam » Koto gadang » Pernikahan Adat Koto Gadang » Pernikahan Adat Koto Gadang

Pernikahan Adat Koto Gadang

(2054 Views) April 3, 2016 11:00 am | Published by | No comment



Prosesi pernikahan adat Koto Gadang hampir sama dengan pernikahan adat Balingka. Lokasi Nagari Balingka dekat dengan Nagari Koto Gadang. Jika orang Balingka ingin ke Bukittinggi mereka memintas melalui nagari Koto Gadang.

Proses pernikahan dimulai, apabila sudah terjadi kesepakatan antara laki-laki dan wanita, maka perwakilan pihak wanita datang ke rumah pengantin pria untuk mengantar cincin emas sebagai tanda ikatan. Ini dinamakan maanta tando (mengantar tanda). Setelah itu perwakilan pihak pria datang ke kediaman keluarga wanita untuk membicarakan kapan pernikahan dilaksanakan, dan merencanakan persiapan untuk acara tersebut. Ini dinamakan bakampungan.

Setelah ditentukan kapan pelaksanaan pernikahan dan keperluan dalam acara tersebut, pihak perwakilan keluarga wanita yang diwakili oleh saudara bapak (Bako), saudara ibu, teman sekampung, anak mamak, dan menantu datang ke rumah pihak pria untuk menyerahkan sejumlah uang sebagai uang jemput (manjampuik marapulai). Selain mengantar uang jemputan mereka membawa carano yang berisi sirih, lengkap dengan rempah dan uang logam sebanyak 10 buah. Pihak pria membalas kedatangan tersebut dengan menjamu perwakilan pihak wanita, dengan menghidangkan 10 jenis macam lauk pauk.




Kemudian, pengantin pria dibawa ke rumah pengantin wanita dengan membawa 5 bingkisan yang berisi perlengkapan diri, yang bermakna ia sudah siap menikah, dan akan pindah ke kediaman pengantin wanita.

Pernikahan dilaksanakan di kediaman pengantin wanita, Tamu dan undangan dari pihak wanita menghadiri pesta tersebut, tapi orang tua pengantin pria tidak diperbolehkan hadir. Orang tua, sesepuh, dan kerabat dari pihak pria, hadir setelah tamu undangan pulang. Mereka dijemput untuk menghadiri acara pesta (baralek). Pada saat ini semua keluarga besar kedua mempelai bertemu, menjelang sore.

Anak daro (pegantin wanita) dari koto gadang menggunakan talakuang, yaitu selendang lebar dan kaku yang letakkan di kepala. Ujung selendang tidak diselempangkan di leher tapi dibiarkan lepas ke bawah (setinggi dada), dan pinggir selendang kanan kiri dipegang oleh anak daro, agar tidak terlepas. Sedangkan baju pengantin disebut baju kurung, atau batabue (bertabur). Berbeda dengan pengantin wanita lain di Minang, yang menggunakan suntiang sebagai hiasan kepala.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Pernikahan Adat Koto Gadang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>