Perang Kamang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » sejarah » Perang Kamang » Perang Kamang

Perang Kamang

(803 Views) Mei 23, 2016 10:19 am | Published by | No comment



Perang Kamang merupakan salah satu perang pajak yang terkenal, selain perang Manggopoh yang memakan banyak korban. Perang Pajak merupakan bentuk penolakan masyarakat terhadap Peraturan Pajak yang diberlakukan awal Maret 1908. Pajak terhadap mata pencaharian (kekayaan rakyat) dan harta pusaka yang diberlakukan di Sumatera Barat. Hal ini bertentangan dengan janji-janji pemerintah Belanda yang ditulis dalam Plakat Panjang tahun 1833.

Perang Kamang dipicu oleh demontrasi yang dilakukan oleh masyarakat Kamang di depan Kantor Luhak Agam di Bukittinggi. Aksi ini diakhiri dengan perundingan wakil masyarakat Kamang yaitu Datuk Machudum, Datuk Sidi Gadang dan Datuk Kondo dengan pihak Belanda. Perundingan ini gagal. Belanda menahan wakil masyarakat yang diutus untuk berunding. Hal ini menimbulkan kemarahan bagi masyarakat Kamang.

Haji Abdul Manan, tokoh Perang Kamang, bersama ulama membangkitkan motivasi keagamaan untuk melawan kaum kafir. Mati memerangi kafir adalah mati syahid. Surau-surau di Kamang melakukan berbagai persiapan menghadapi perang di Surau Taluk (didekat makam pahlawan sekarang).




Hampir semua Surau dijadikan basis untuk melakukan koordinasi kekuatan tempur baik fisik maupun mental. Fungsi surau tidak hanya tempat ibadah ; salat berjamaah dan pengajian-pengajian, tapi dilaksanakan juga do’a bersama dalam rangka memperkokoh keyakinan dan mempersiapkan mental untuk menghadapi perang.

Datuk Rajo Penghulu, tokoh adat, mempersiapkan fisik para pejuang dengan melatih silat dan strategi perang di surau-surau. Kedua tokoh tersebut memberi pengaruh yang sangat besar pada masyarakat Kamang. Perpaduan kekuatan antara adat dan agama dalam melawan Belanda.

Setelah persiapan yang matang masyarakat Kamang melakukan perlawanan bersenjata pada tanggal 15 Juni 1908, perlawanan itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan, banyak jatuh korban dari masyarakat Kamang. Akan tetapi, nilai-nilai kepahlawanan dan kebersamaan telah diwariskan pada generasi selanjutnya dan merupakan kejadian yang tidak terlupakan.

Atas perjuangan HajiAbdul Manan dan Datuk Radjo Penghulu, pemerintah Kabupaten Agam telah mengajukan nama mereka untuk menjadi pahlawan Nasional bersama dengan Siti Manggopoh (Perang Manggopoh), tiga pejuang perang Pajak atau yang dikenal dengan Perang belasting 1908.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Perang Kamang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>