Sejak tahun 1923, Martabak kaka, di Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » kuliner » Sejak tahun 1923, Martabak kaka, di Bukittinggi

Sejak tahun 1923, Martabak kaka, di Bukittinggi

(1372 Views) November 14, 2014 9:13 pm | Published by | 2 Comments



Martabak kaka, atau biasa disebut “martabak si kaka”, terkenal di Bukittinggi. Martabak ini, usaha keluarga yang diturunkan ke beberapa generasi. Saya masih ingat tahun 80-an, bapak tua, mungkin ia yang dipanggil “si kaka” menyiapkan adonan martabak. Kulit martabak yang sudah ditata rapi berbentuk bulat-bulat, dan berkilau karena minyak, diputar, ditekan sehingga pipih dan berbentuk bulat, untuk kulit martabak. Kulit yang tipis itu tidak robek. Lalu dengan cekatan, ia mengambil gelas kaleng besar yang di dalamnya sudah terdapat telur, daging, daun bawang, ditambah garam dan bumbu-bumbu, mengaduk dengan cepat dan meletakkannya di atas adonan kulit itu. Segera dilipat dan memasukkannya ke kuali berbentuk bulat agak datar, dengan sedikit cekungan, sehingga minyak goreng mengumpul di bagian tengah. Lalu, dengan sendok yang tipis dan lebar, minyak goreng yang ada di dalam kuali itu disiram-siram ke martabak sampai masak, sekali-kali martabak dibolak-balik.




martabak telur

Prosesi pengerjaan memasak martabak, dilakukan oleh dua orang. Satu pemasak utama, memasak martabak, sedangkan yang lain membuat persiapan dan penyajian : mengiris daun bawang, menyiapkan kuah martabak, dan menyajikan martabak ke tamu. Begitu martabak masak, pemasak utama memotong-motong menjadi potongan kecil di atas papan yang sebagian area yang terkena pisau sudah tergerus, saking lama dan saking seringnya digunakan.

Martabak disajikan dengan kuah kecap kecap, campur cabe merah/hijau diiris-iris, irisan bawang Bombay, cuka, dan gula. Cara memakan dengan dicocol atau airnya dituang ke piring.

Sekarang, yang menjadi pemasak utama, orang muda, mungkin cucu si kaka. Toko itu tak berubah dari tahun 1923, kita akan menemukan suasana restoran zaman dulu, dari kursi, meja, lemari, area memasak, pajangan. Ada beberapa foto toko martabak si kaka tahun 30-an, bentuk tokonya masih sama. Tidak perlu bertanya berapa harga seporsi, baik untuk dibawa pulang atau makan di restoran. Kita cukup melihat harga yang ditempel dekat pintu masuk : telur itik harga Rp 16:000, dan telur ayam Rp 14.000 (Harga 2013). Begitu sampai di restoran, katakan ingin makan di restoran, atau dibawa pulang. Martabak dengan telur itik, atau telur ayam. Martabak kaka buka dari sore, hingga malam hari.

Tahun 1980 an tiap Jum’at, si kaka juga menjual gulai kambing, hanya tiap Jumat. Saya masih ingat rasanya, pedas, dagingnya empuk, dan bumbu terasa menyegat. Banyak yang membeli, dijual sebelum Salat Jumat. Jika telat, pasti kehabisan. Tidak ada yang makan di sana, beli, dan dibawa pulang. Tapi sekarang, tidak ada lagi dijual gulai kambing.

lokasi martabak kaka



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

2 Komentar for Sejak tahun 1923, Martabak kaka, di Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>