Mangaleh Babelok (Cara Berjualan Orang Minang ) : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » budaya » Mangaleh Babelok (Cara Berjualan Orang Minang ) » Mangaleh Babelok (Cara Berjualan Orang Minang )

Mangaleh Babelok (Cara Berjualan Orang Minang )

(1043 Views) April 7, 2017 12:44 pm | Published by | 2 Comments



Waktu kecil saya sering mendengar kata “mangaleh babelok”. Apa yang dimaksud dengan “manggaleh babelok”? Mangaleh berarti berdagang. Babelok berarti berputar atau berpindah dari satu daerah/nagari ke nagari lain dan kembali ke nagari semula. Daerah/nagari yang mereka datangi untuk berdagang selalu sama tapi berbeda waktu, disesuaikan dengan hari pasar masing-masing daerah/nagari.

Cara berdagang bebelok sudah ada sejak dulu. Awalnya penjual berdagang di sekitar nagari yang ada di daerah darek (daerah asal suku Minang, mencakup tiga luhak (luhak nan tigo) : Luhak Agam, luhak Lima Puluh, dan Luhak Tanah Datar). Contoh di Kota Bukittinggi, hari pasar setiap Rabu dan Sabtu, penjual dari nagari di sekitar Bukittnggi datang dan menjual dagangannya. Penjual dari Balingka, Koto Tuo, Koto Gadang berjalan kaki melewati ngarai menuju Bukittinggi. Mereka pergi dari nagari asal setelah subuh (pukul 5:00 WIB) dan sampai di rumah sebelum magrib (18:00 WIB). Sedangkan, penjual yang lebih jauh menggunakan kerbau atau bendi. Pada awalnya, jenis barang yang dijual, produk pertanian dan hasil kerajinan rumah tangga (termasuk makanan). Pada hari Selasa dan Jumat merupakan hari pasar di daerah Birugo, maka penjual yang sama akan berdagang di daerah Birugo.




jalan pasar atas ngarai (pasa ateh ngarai)

 

 

 

 

 

 

 

 

Semakin lama, jangkauan (jarak) mangaleh babelok semakin jauh dari kampung asal, menyebabkan laki-laki Minang tidak pulang 2-3 minggu dan jenis dagangan yang dijual semakin bermacam-macam. Jenis barang yang dijual, tidak lagi produk pertanian, tapi meliputi barang-barang kebutuhan sehari-hari dan produk konsumtif ; baju, lipstik, bedak, sepatu, mencakup kebutuhan untuk seluruh keluarga (anak, istri, suami). Mereka menjual berbagai jenis barang yang jarang/tidak dijual di nagari/desa yang mereka datangi dan membawa barang-barang baru dan unik.

Untuk mobilitas dari satu daerah ke daerah lain, mereka menggunakan mobil atau truk. Dalam satu mobil atau truk terdapat 4-5 pedagang. Pada saat bulan Ramadan, mereka membawa barang lebih banyak, terutama baju dan sepatu untuk Lebaran.

Salah satu alasan laki-laki Minang harus pandai bersilat, untuk membela diri, jika dirampok selama diperjalanan. Dulu mereka belajar bersilat di surau dan mendengar kisah perjalanan saudara/tetangga yang merantau, sehingga mereka juga berkeinginan untuk pergi merantau.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

2 Komentar for Mangaleh Babelok (Cara Berjualan Orang Minang )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>