Makna Balairung Menurut Adat Minang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » arsitektur » arsitektur publik » Makna Balairung Menurut Adat Minang » Makna Balairung Menurut Adat Minang

Makna Balairung Menurut Adat Minang

(926 Views) Agustus 28, 2017 10:31 am | Published by | No comment



Saya pertama kali mendengar kata balairung, balairung Balingka, di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Balairung Balingka itu berupa rumah yang digunakan untuk tempat pengajian warga Balingka setiap 2 minggu. Selain tempat pengajian, tempat rapat warga Balingka di Jakarta tentang berbagai hal, tempat memotong hewan qurban pada hari raya Idul Adha, dan tempat bermukim sementara bagi pemuda Balingka yang berasal dari kampung yang ingin berusaha di Jakarta.

Sebelum rumah (balairung Balingka) di daerah Tanah Abang itu dibeli, warga Balingka di Jakarta mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Kemudian warga Balingka di Jakarta (terutama pedagang di Tanah Abang) membeli rumah yang dijadikan tempat pengajian dan kegiatan warga Balingka.

Kata balai berarti pasar dan rung berarti bangunan (adat). Balairung adalah bangunan yang khusus digunakan sebagai tempat musyawarah pemuka adat (panghulu/ninik mamak) untuk memecahkan masalah kemasyarakatan dalan Nagari. Bentuk bangunan balairung berupa rumah gadang berukir. Ada dua bentuk balairung yaitu balairung Koto Piliang dan balairung Bodi Caniago.

Balairung Koto Piliang dibangun dengan dinding dan jendela dengan lantai yang ditinggikan pada ujung ruang (anjungan), tempat para penghulu pucuk duduk. Balairung ini melambangkan adat yang “ menetes dari langit” (manitiak dari Iangik). Segala sesuatu ditentukan dari atas atau aristokrasi.

Balairung Bodi Caniago dibangun tanpa dinding, tanpa jendela dan lantai datar, melambangkan bahwa permusyawaratan dalam sistem Bodi Caniago berlangsung terbuka dan dapat disaksikan masyarakat sebagai wujud sistem adat yang mencuat dari bumi sebagai demokratis (mambasuik dari bumi).




Balairung Bodi Caniago di kompleks istano basa pagaruyuang.

Awal suku di Minangkabah Koto, Piliang, Bodi, dan Caniago. Datuak Parpatiah nan Sabatang mengembangkan lareh bodi Caniago, sedangkan Datuak Katumangguangan, mengembangkan Koto Piliang. Datuak Parpatiah dan Datuak Katumangguangan bersaudara satu ibu berbeda bapak. Bapak Datuak Parpatiah nan Sabatang, seorang cerdik-pandai. Sedangkan bapak Datuak Katumangguangan, seorang raja. Datuak Parpatiah, menginginkan masyarakat diatur secara demokratik dalam bahasa Minang, “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Sedang Datuak Katumangguangan, menginginkan rakyat diatur dalam sebuah tatanan yang “berjenjang naik, bertangga turun” (hierarkhial).

Dari berbagai sumber.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Makna Balairung Menurut Adat Minang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>