Janjang ampek puluah, jenjang 40 : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » wisata » Tujuan wisata » Tangga/Janjang » Janjang ampek puluah, jenjang 40

Janjang ampek puluah, jenjang 40

(1666 Views) November 11, 2014 8:03 pm | Published by | No comment



Janjang (tangga) ampek (empat) puluah (puluh) berasal dari jumlah anak tangga sebanyak empat puluh. Waktu kecil saya hitung dengan bapak saya, benar, empat puluh anak tangga, sekarang? Harusnya jumlah tangganya tidak tambah dan tidak kurang. Setelah empat puluh anak tangga tanpa jeda, terdapat bordes (bagian dari tangga, jeda, istirahat untuk menuju tangga berikutnya), tangga lagi…bordes lagi…sampai jalan. Jumlah keseluruhan tangga dari titik paling atas sampai paling bawah 100.

Janjang ampek puluah menghubungkan pasar atas dan pasar bawah, cukup curam, dibangun tahun 1908, saat Louis Constant Westenenk menjabat sebagai Asisten Residen Agam. Cukup legendaris sehingga menjadi bagian dalam lirik lagu Minang, dengan judul “Andam Oi”, ciptaan Syahrul Tarun Yusuf.

Bukittinggi kota rang Agam yo andam oi
Mandaki janjang ampek puluah
Babelok jalan ka malalak -2x

Pernah pagi hari, saya menemukan ibu hamil (kehamilan 8 bulan) naik turun tangga berkali-kali. Mengapa mereka naik turun tangga? tanya saya ke tante, yang menemani jalan pagi itu. “Agar persalinannya berjalan lancar,” jawab tante. Saya masih belum bisa mengaitkan antara naik turun janjang ampek puluah dengan lancarnya persalinan. Tapi yang pasti pagi ini, saya menemukan 2 orang ibu hamil yang melakukan kegiatan serupa.

Janjang ampek puluah cukup terjal (kira-kira 45 derajat) dengan tinggi anak tangga 25 cm. Lantai tangga berwarna merah tua, bermotif (waktu saya kecil, warna tangga abu-abu). Pada musim hujan harus berhati-hati melalui janjang ampek puluah, karena curah hujan yang tinggi dan aliran air dari pasar atas melalui tangga, menyebabkan tangga menjadi licin dan ini membahayakan pejalan kaki. Walau di sisi kanan tangga terdapat railing, untuk pegangan saat naik dan turun.

janjang 40 pasar atas.

Janjang ampek puluah ini cukup lebar, di kiri kanan terdapat rumah dan toko. Jalur ini tidak banyak dilalui pejalan kaki, sehingga tidak ada pedagang kali lima yang berjualan di area ini. Di sisi kanan (dari pasar atas) ada salah satu mesjid kecil yang menarik perhatian, bangunan baru. Itu dulu rumah tua. Rancangan mesjid menarik. Sabtu pagi, ketika saya menuju pasar bawah, saya mendengar suara ustad yang sedang ceramah dari mesjid itu. Saya cari pintu masuk dan mengikuti arah jalan. Di dalam mesjid kecil itu, penuh dengan jamaah yang sedang mendengarkan pengajian. Pengajian dimulai pukul 10:00 – 12 00 WIB. Di Bukittinggi hampir semua mesjid mengadakan acara pengajian pada hari Sabtu dan Minggu. Setiap mesjid mempunyai jamaah tetap.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Janjang ampek puluah, jenjang 40

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>