Harta Orang Minang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » budaya » Harta Orang Minang » Harta Orang Minang

Harta Orang Minang

(782 Views) Januari 9, 2017 4:10 am | Published by | No comment



Sampai hari ini, saya masih makan beras dari sawah keluarga besar (dari pihak mama). Setiap panen, etek (tante) mengirimkan beras itu, dari Balingka ke Jakarta. Alhamdulillah, rasa beras enak dan berkah. Saya bertanya pada etek, kenapa mama mendapatkan berat dari Haji Agus (saudara dari keluarga besar mama)? Etek mengatakan bahwa Haji Agus tidak punya anak perempuan. Saudara perempuan Haji Agus sudah meninggal semua. Haji Agus kemudian memberikan sebagian sawah ke keluarga besar.

Dalam surat Haji Agus yang saya temukan (foto copy), Haji Agus membuat pernyataan bahwa hasil sawah tersebut diberikan dan dikelola kepada 4 keluarga, salah satu, keluarga mama. Ada kata-kata yang membuat saya terharu, sawah tersebut tidak boleh dijual agar anak, kemenakan, dan cucu, dapat selalu menikmati hasil dari sawah tersebut. Saya, dari keturunan dari pihak ibu masih menikmati hasil sawah itu, hal sama akan terjadi ke generasi berikut. Sawah tersebut disebut Pusako Tinggi, sawah tidak boleh dijual, agar hasil panen terus dinikmati oleh generasi berikut dari pihak ibu.




Balingka pahambatan lereng gunung singgalang.

Di Minangkabau ada 4 harta kepemilikan;

1) Harta Pusaka Tinggi (Harato Pusako Tinggi), Harta Orang Minang, harta sejak dulu pada, saat pembukaan nagari, koto, dan taratak, yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam satu kaum.

2)Harta Pusaka Rendah (Harato Pusako Rendah), harta yang diperoleh dari hasil harta pusaka tinggi, misal harta pusaka tinggi dikelola.

3)Harta Pencarian (Harato pancarian). Harta yang didapat oleh suami dan istri dalam lembaga pernikahan. Ketika bercerai, harta tersebut dibagi antara suami dan istri. Jika meninggal, maka harta tersebut diwariskan ke anak dan cucu.

4)Harta sendiri (Harato Surang). Harta yang didapat seseorang sebelum menikah, harta tersebut terikat pada diri, walau sudah menikah harta tersebut tetap milik pribadi.

Harta pusaka tinggi, dan harta pusaka rendah merupakan harta milik kaum, tidak boleh dijual, hanya bisa dikelola dan hasil dibagikan ke warga di dalam kaum, atau berdasarkan kesepakatan. Tapi pada kenyataan, masih ada yang menjual harta kaum, tanpa sepengetahuan kaum. Hal ini tentu menimbulkan pertengkaran di dalam kaum. Harta milik kaum itu terdiri dari : tanah, sawah (kebun), rumah, tanah pekuburan, dan kolam.

Sumber foto : Linda, Padang.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Harta Orang Minang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>