Ciri-Ciri Arsitektur Surau Khas Minang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » arsitektur » arsitektur publik » Ciri-Ciri Arsitektur Surau Khas Minang » Ciri-Ciri Arsitektur Surau Khas Minang

Ciri-Ciri Arsitektur Surau Khas Minang

(840 Views) November 27, 2017 11:48 pm | Published by | No comment



Surau merupakan tempat Salat lima waktu bagi kaum laki-laki, fungsi surau hampir sama dengan mushala, tempat Salat, dan tidak digunakan untuk Salat Jumat, karena ukurannya yang terbatas, tidak mampu menampung jamaah Salat Jumat dalam jumlah banyak.

Sebagian Surau khas Minang, sudah rapuh dan tidak diperbaiki. Warga di sekitar surau memilih untuk mendirikan surau atau mesjid baru di sebelah surau lama. Sebagian surau khas Minang yang masih dipertahankan antara lain ; Surau Nagari Lubuak Bauk, Tanah Datar dan Surau Taluak Banuhampu, Kabupaten Agam. Kedua surau tersebut sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Surau Nagari Lubuak Bauk sudah tidak dapat digunakan, karena kondisi bangunan yang rapuh, sehingga di sebelahnya terdapat mesjid baru. Sedangkan, Surau Taluak Banuhampu, Kabupaten Agam direnovasi dan dapat digunakan sebagai tempat Salat.
Surau mempunyai ciri-ciri arsitektur yang selalu ada dalam setiap pembangunannya.




surau nagari lubuak bauk dan mihrab.

1. Surau terletak di dekat empang (kolam) yang digunakan untuk mengambil air wudhu, mandi, dan membersihkan diri sebelum Salat.
2. Surau berbentuk persegi empat (kubus) dan menghadap kiblat. Jadi bagian depan mesjid (fasad depan) tidak selalu menghadap pintu masuk komplek surau (gerbang surau), tapi disesuaikan dengan arah kiblat. Bentuk surau yang persegi empat menyebabkan ruang di dalam surau tidak ada yang tersisa, semua sesuai dengan ukuran shaf (baris di dalam Salat kira-kira 120 mm x 70 mm).
3. Atap limas segi empat.
4. Bagian mihrab (tempat imam), ada tanda berupa bangunan kecil yang menempel di depan (area imam) atau atap kecil di bagian atas mihrab.
5. Surau lebih tinggi dari permukaan tanah setinggi 100 mm.

Pada awalnya surau tidak diperuntukan untuk wanita, sehingga tidak ada area (ruang Salat) untuk wanita. Semua area Salat digunakan untuk kaum laki-laki, tapi pada perkembangannya, disediakan tempat Salat untuk wanita di bagian belakang dengan membatasi area antara wanita dan laki-laki dengan tirai, di Surau Taluak Banuhampu, Kabupaten Agam.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Ciri-Ciri Arsitektur Surau Khas Minang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>