Bendi Transportasi Tradisional Khas Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » wisata » Transportasi » bendi » Bendi Transportasi Tradisional Khas Bukittinggi

Bendi Transportasi Tradisional Khas Bukittinggi

(3167 Views) Januari 23, 2015 8:13 pm | Published by | No comment



Sejak dulu, bendi menjadi alat transportasi di Bukittinggi, mengantar penumpang sampai ke tempat tujuan. Tempat duduk penumpang dan kusir (pengendara bendi) terbuat dari kayu, sempit, untuk 4 orang dewasa. Penumpang bisa duduk di sebelah kusir, satu orang. Roda bendi dari kayu yang dilapisi karet, untuk menaiki bendi ada satu tatakan kaki dari besi. Penumpang menginjak besi pipih itu, untuk naik ke dalam bendi.
Bendi di pasar bawah.

Bendi terdapat di depan jam gadang, dan di depan pasar banto, pasar bawah. Bendi tidak akan berkeliling kota mencari penumpang. Setelah mengantar penumpang ke tempat tujuan, bendi akan kembali ke tempatnya, di depan jam gadang atau di depan pasar banto. Bendi sudah ada sejak pukul 7:00 WIB – 20 : 00 WIB.

Bendi digunakan untuk transportasi dari pasar ke rumah, digunakan oleh ibu rumah tangga. Wisatawan dapat menggunakan jasa bendi mengelilingi kota Bukittinggi. Harga tergantung jarak tempuh, dan tawar menawar dengan kusir bendi. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp. 10.000 sampai Rp. 30.000, jika hanya mengantar ke satu tujuan. Jika ingin berkeliling kota, dari jam gadang, Jl, A. Yani (melewati kampung cina), ke kiri menuju panorama, dan jam gadang, ongkos Rp. 50.000. Melihat keindahan dan kehidupan kota Bukittinggi menggunakan bendi, sangat menyenangkan, karena kuda tidak berlari kencang.




Bendi di depan Banto Trade Center.
Bendi menjadi alat transportasi sejak awal pembentukan kota Bukittinggi. Bendi membawa barang penjual pada hari pasar, Rabu dan Sabtu, karena tidak ada alat transportasi lain. Pedati, alat transportasi yang menggunakan kerbau, hanya digunakan di desa. Jalan pedati/sapi, lebih lambat dari kuda.

Di rumah kelahiran Bung Hatta dapat dilihat, 4 kandang kuda, ada tempat air untuk memandikan, memberi minum kuda, dan membersihkan kandang kuda. Ada ruang untuk tempat peralatan bendi. Tidak semua keluarga di Bukittiggi, mempunyai bendi sebagai alat transportasi pribadi, hanya keluarga tertentu dan kaya.

Saat ini, di Bukittinggi, transportasi lain selain bendi, ada taksi, angkutan kota, dan ojek. Ojek jarang terlihat di pusat kota. Ojek, ada di desa sekitar Bukittinggi, sebagai alat transportasi alternatif. Taksi tidak terlalu banyak jumlahnya, biasa digunakan untuk keluar kota. Warga Bukittinggi sering berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain (di dalam kota), karena waktu tempuh lebih cepat. Jika menggunakan kendaraan umum, waktu tunggu dan waktu tempuh lebih lama karena jalur kendaraan harus jalan memutar, mengikuti jalur jalan angkutan kota.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Bendi Transportasi Tradisional Khas Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>