Bako, Keluarga Ayah : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Budaya sejarah » budaya » Bako » Bako, Keluarga Ayah

Bako, Keluarga Ayah

(814 Views) September 24, 2016 12:06 am | Published by | No comment



Orang Minang mempunyai sistem Matrilineal/Matriahat, garis keturunan mengikuti garis keturunan ibu. Anak melekat ke garis keturunan ibu. Ayah bukan anggota dari garis keturunan anak-anaknya. Ayah dipandang dan diperlakukan sebagai tamu di dalam keluarga. Ayah di lingkungan keluarga ibu disebut samando atau urang samando.

pernikahan adat nagari balingka

 

 

 

 

 

 

 

 

Tempat ayah berada dalam garis keturunan ibunya. Secara tradisi, tanggung jawab ayah berada pada keluarga garis keturunan ibu. Ia wali dan pelindung semua anggota keluarga, dan menjaga harta benda kaum dan tidak menikmati hasil dari harta benda kaum (hasil sawah/ladang) kaum (harta pusako), karena hasil harta tersebut untuk anggota keluarga wanita.

Di dalam rumah keluarga orang tuanya, ia, ayah (laki-laki) tidak mendapatkan bilik, karena semua bilik diperuntukkan bagi anggota keluarga yang perempuan untuk menerima suami mereka di malam hari.




Siapa bako? Bako adalah keluarga pihak ayah. Anak menyebut bako pada semua anggota keluarga pihak ayah. Sedangkan, anggota pihak ayah menyebut anak dengan sebutan “anak pusako”. Contoh, saya menyebut tante dan semua saudara dari keluarga ayah saya sebagai bako. Sedangkan tante dan semua saudara dari keluarga ayah, menyebut saya “anak pusako”.

Dalam adat Minangkabau, bako berperan dalam dalam kehidupan “anak pusako” pada saat;

1.Beberapa hari setelah anak dilahirkan, terdapat acara turun mandi atau memotong rambut anak pusako.
2.Pernikahan
3.Kalau ia anak laki-laki dan diangkat jadi panghulu (datuk), bako ikut menjadi bagian dalam acara pengangkatan panghulu (anak laki-laki tersebut menjadi panghulu dari keluarga ibu).
4.Saat kematian.

Selain itu, bako tidak terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh keluarga anak pusako.

Dalam keluarga kami, saya merasakan bahwa pihak ibu sangat mendominasi. Kakak mama yang laki-laki (mamak, saya panggil Om) sangat bertanggung jawab pada keluarga besar kami. Om selalu terlibat dalam semua persoalan keluarga, termasuk pada saat ada pernikahan di keluarga kami. Mama akan memberitahu Om, semua hal yang berhubungan dengan proses pernikahan tersebut. Om, satu-satunya anak laki-laki dari Piah (nenek saya), sehingga setiap persoalan keluarga, termasuk saat rumah keluarga besar kami direnovasi di kampung, semua Om yang urus. Walau Om tidak mempunyai bilik di rumah itu. Tapi bertanggung jawab terhadap semua harta pusaka keluarga kami. Om mengetahui semua harta pusaka (sawah dan makam keluarga) dan mengurus semua pada saat beliau masih hidup.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Bako, Keluarga Ayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>