Wisata Arsitektur dan Perkembangan Kota Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » wisata » Tujuan wisata » wisata arsitektur » Wisata Arsitektur dan Perkembangan Kota Bukittinggi

Wisata Arsitektur dan Perkembangan Kota Bukittinggi

(1249 Views) Januari 2, 2015 9:33 pm | Published by | No comment



Bagi penyuka arsitektur dan Perkembangan Kota, Bukittinggi dapat menjadi kajian yang menarik, karena kota ini dibangun dan berkembang karena persinggungan kekuasaan antara penghulu Nagari Kurai dengan penguasa pada saat itu (Belanda, Jepang, dan Pemerintah Indonesia).

Pembentukan kota Bukittinggi, berawal dari pasar yang diadakan oleh penghulu Nagari Kurai di salah satu bukit yang paling tinggi (Bukit Nan Tinggi). Pasar diadakan setiap hari Sabtu dan Rabu. Pada saat itu, penjual menjajakan barang dagangannya di dalam katidiang (wadah dari bambu) dan di atas daun pisang. Ada yang membuat lapak dari kayu atau bambu, dengan atap rumbia atau ilalang. Bagian atas lapak terbuka, sedangkan bagian bawah diberi dinding anyaman bambu. Tidak ada bangunan permanen.

Pusat kota Bukittinggi (jam gadang, pasar atas, benteng Ford de Kock, kebun binatang) merupakan 7 bukit. Bukit itu disatukan oleh infrastruktur kota, berupa jalan, tangga (janjang) bangunan, pasar, dan perumahan. Jadi wajar kalau jalur jalan di kota Bukittinggi, naik turun.




Tahun 1926, Belanda membangun benteng Ford de Kock, dan mengembangkan kawasan di sekitar pasar atas. Pertama, Belanda meratakan bukit sehingga terdapat area yang luas untuk tempat berkumpulnya pedagang dan pembeli. Setelah itu, membuat jalan, tangga (janjang), toilet, perumahan untuk warga Cina dan India, yang mulai datang karena ada perdagangan.

Mesjid raya yang terletak di depan bioskop Gloria, dibangun oleh pedagang. Dulu, pedagang salat di salah satu toko (bagian atasnya). Karena kebutuhan tempat salat sehari-hari dan salat Jumat yang lebih layak, maka dibangun Mesjid Raya secara bertahap sampai seperti sekarang.

Di sisi Selatan, Belanda membangun pusat militer : lapangan, perumahan tentara, rumah sakit, gudang, kantor, sekolah, dan gereja. Saat ini, bangunan Belanda masih dimanfaatkan dan dirawat dengan baik, misalnya SD Fransiskus (dulu sekolah untuk anak Belanda), SMA N 2, (sekolah guru), perumahan tentara (masih ada), dan gereja Katolik, satu-satunya di Bukittinggi.

rumah sakit tentara Bukittinggi.

Jepang meninggalkan gua jepang, salah objek wisata di Bukittinggi. Menurut kabar, masih banyak gua yang dibuat Jepang pada masa itu, tapi tidak diketahui keberadaannya.

Pada masa pemerintahan Indonesia, gedung perkantoran tidak ada yang dirancang secara signifikan, standar. Gaya arsitektur gedung perkantoran yang biasa ada di Sumatera Barat, atap bagonjong. Pembangunan Mall (plaza Bukittinggi) tidak memberikan “nilai” bagi arsitektur kota.

Rancangan arsitektur Hotel The Hill menarik, tidak mempunyai atap bagonjong, tapi bergaya Timur Tengah. Posisi Hotel The Hill, terletak di tengah kota dan berada di titik tertinggi di kota Bukittinggi.

Objek Arsitektur :
SMAN 2
Perumahan Tentara di sepanjang Jl. Sudirman.
Benteng Ford de Kock
Jam Gadang
Hotel The Hill
Bioskop Sovya
Bioskop Eri
Hotel Antokan
Penjara Belanda
SD Fransiskus
Gereja Katolik
Rumah di sudut Jalan Teuku Umar
Janjang Ampek 40

Bioskop Sovya, Bukittinggi.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Wisata Arsitektur dan Perkembangan Kota Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>