Taratak, Dusun, Koto, dan Nagari : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Taratak Dusun Koto dan Nagari » Taratak, Dusun, Koto, dan Nagari

Taratak, Dusun, Koto, dan Nagari

(4731 Views) Februari 10, 2016 1:43 pm | Published by | 4 Comments



Minangkabau memiliki wilayah administrasi sendiri yang berbeda dengan wilayah administrasi pemerintah Indonesia. Wilayah administrasi pemerintah : Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya, Provinsi. Sedangkan wilayah administrasi Minangkabau : Taratak, Dusun, Koto, dan Nagari.

Di kota Bukittinggi menggunakan wilayah administrasi pemerintah, tapi di kabupaten Agam, menggunakan wilayah administrasi Minangkabau, misal di Balingka terdapat kantor Nagari yang dipimpin oleh wali nagari.

Pembentukan sebuah pemukiman dimulai dari taratak, berupa pembukaan lahan baru untuk sawah dan ladang. Penduduk bermukim di sekitar lahan dan sawah. Jika, kondisi area tersebut memungkinkan, terjadi penambahan penduduk dan pembukaan lahan dan sawah baru. Kemudian, dibangun surau untuk tempat salat berjamaah. Taratak berkembang menjadi dusun. Di dalam dusun, penduduk (kaum) dapat mendirikan rumah gadang dengan dua gonjong.

Dusun berkembang, penduduk semakin banyak dan jenis usaha semakin beragam, tidak hanya pertanian. Fasilitas umum dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan warga, seperti masjid, balai adat, dan rumah gadang. Wilayah ini disebut Koto.




desa pariangan padang panjang-nagari sudah terdapat mesjid

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan koto menjadi nagari. Nagari memiliki batas, struktur politik, aparat hukum dan wilayah ini diakui oleh adat. Di dalam nagari minimal terdapat 4 suku

Dalam istilah pepatah yang ada dalam masyarakat Minang Dari Taratak Menjadi Dusun, Dari Dusun Menjadi Koto, Dari Koto Menjadi Nagari, Nagari mempunyai penghulu (Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu ).

Di sekitar nagari, masih banyak terdapat taratak, dusun, dan koto. Sebagian penduduk mencari lahan baru untuk sawah dan ladang di lereng gunung atau bukit, di pinggang gunung atau di pinggir-pinggir hutan. Mereka mendirikan pondok-pondok di daerah tersebut.

Balingka pahambatan lereng gunung singgalang.

Mereka bercocok tanam, membuat kolam ikan, dan membuat usaha peternakan seperti ayam, dan itik,l untuk keperluan hidup mereka. Mereka tetap berhubungan dengan nagari untuk berbagai keperluan. Kondisi lahan yang tidak memungkinkan menyebabkan taratak tidak berkembang menjadi dusun.

Perbedaan taratak, dusun dan koto terdiri dari 3 aspek, 1) pemerintahan adat, 2). pelaksanaan salat, 3) jumlah penduduk atau anggota masyarakatnya.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

4 Komentar for Taratak, Dusun, Koto, dan Nagari

  • Dony Syahrizal berkata:

    jempol dua. trims

  • Mas Hafid berkata:

    Sangat bagus ulasannya, ..
    Boleh nanya ya..

    “Perbedaan taratak, dusun dan koto terdiri dari 3 aspek, 1) pemerintahan adat, 2). pelaksanaan salat, 3) jumlah penduduk atau anggota masyarakatnya.”

    Mohon informasinya.. Terima kasih..

    • safitri berkata:

      Salat Jumat, tidak dilakukan di taratak (hanya ada surau), karena tidak ada mesjid, tapi di lakukan di koto (karena terdapat mesjid). Jumlah penduduk di taratak lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk di koto. Begitu juga unit pemerintahan ; taratak biasa terdiri dari beberapa paruik (satu turunan) yang dipimpin oleh datuak. Bisa jadi di dalam 1 taratak terdapat lebih dari 1 datuak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>