Surau : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » budaya » Surau » Surau

Surau

(741 Views) Januari 15, 2017 1:01 pm | Published by | No comment



Surau merupakan tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama bagi anak laki-laki. Ketika memasuki usia remaja, anak laki-laki tidak diperkenankan lagi tidur di rumah gadang karena rumah gadang hanya diperuntukan bagi kaum wanita. Untuk itu mereka tidur di surau. Di surau mereka belajar mengaji, bersilat, dan pengetahuan lain serta bersosialisasi.

Kata “surau” berasal bahasa sansekerta swarwa yang artinya segala, semua, macam-macam. Ini berarti surau sudah ada sejak masa Hindu-Budha. menjadi pusat pendidikan dan pelatihan, tempat peribadatan, pertemuan warga, dan untuk belajar pengetahuan agama maupun ketrampilan tertentu.




surau di tengah sawah

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah masuk ajaran Islam ke Minangkabau surau berada dalam struktur kepemimpinan adat yang terdiri dari: imam, khatib, bilal, amil (zakat), dan jamaah, yang dalam bahasa Minang dikatakan “Urang nan ampek jinih (penghulu, manti, malin, dubalang). Surau memiliki fungsi sebagai lembaga pengembangan dakwah Islam dan menjadi salah satu lembaga kemasyarakatan yang penting peranannya bagi rakyat Minangkabau.
Dalam sebuah pemukiman terkecil selalu terdapat surau. Surau dibangun oleh warga, di dekat surau selalu ada kolam (tabek) dan pincuran untuk tempat mengambil air wudhu. Air yang jernih dan bersih berasal dari mata air yang terletak di gunung. Selain untuk wudhu, kolam dan pincuran di dekat surau digunakan warga untuk keperluan sehari-hari, mandi dan mencuci.

Selain kaum laki-laki, kaum perempuan Minang mendapatkan pendidikan agama di surau. Tapi perempuan memiliki keterbatasan dalam memperoleh pendidikan di surau, tidak bisa sebebas kaum laki-laki, sehingga muncul pendidikan khusus Puteri yang diberi nama Diniyah Puteri Padang Panjang didirikan oleh Rahmah El-Yunusiah. Sekolah ini berkembang sampai sekarang, muridnya tidak hanya dari Sumatera Barat, tapi dari Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Pada masa kemerdekaan, surau digunakan ulama membangkitkan motivasi keagamaan untuk melawan kaum Belanda, salah satunya tokoh Perang Kamang Haji Abdul Manan dan Datuk Rajo Penghulu. Surau-surau di Kamang melakukan berbagai persiapan menghadapi perang Kamang di Surau Taluk. Hampir semua Surau dijadikan basis mempersiapkan fisik maupun mental para pejuang.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Surau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>