Siti Manggopoh (Pemimpin Perang Belasting Manggopoh) : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » sejarah » Siti Manggopoh » Siti Manggopoh (Pemimpin Perang Belasting Manggopoh)

Siti Manggopoh (Pemimpin Perang Belasting Manggopoh)

(699 Views) Mei 11, 2016 12:11 am | Published by | No comment



Jika melalui Simpang Gudang Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, terdapat patung wanita yang sedang mengangkat senjata. Patung wanita itu adalah pemimpin Perang Manggopoh, Nama Siti Manggopoh. Untuk mengingat perang Manggopoh, setiap tahun Pemerintah Kabupaten Agam selalu memperingati peristiwa itu. Perang Belasting di Nagari Manggopoh yang terletak di wilayah barat Kabupaten Agam, 100 KM dari Kota Padang dan 60 KM dari Bukittinggi.

Siti Manggopoh berusia 28 tahun, saat melakukan perlawanan terhadap Tentara Kolonial Belanda. Pada tanggal 16 Juni 1908, tengah malam buta Siti Manggopoh memimpin 16 orang rekannya melakukan penyerbuan ke markas pasukan Belanda yang terletak di Bukit Bunian Berpuncak Tujuh, kira-kira dua kilo meter dari Pasar Manggopoh. Dari 55 pasukan Belanda, 53 berhasil dibunuh oleh Siti Manggopoh bersama rekan-rekannya dengan bersenjatan ruduih (golok) dan keris. Dua orang tentara Belanda berhasil meloloskan diri dan melaporkan kejadian tersebut.

Keesokan hari, tentara Belanda didatangkan dari luar Lubuk Basung untuk mencari Siti Manggopoh. Nagari Manggopoh dibumihanguskan oleh tentara Belanda untuk memaksa Siti Manggopoh dan suami keluar dari persembunyian. Tujuh belas hari kemudian, Siti Manggopoh dan suami menyerahkan diri.




Siti Manggopoh dan Rasyid (suami) dipenjara secara terpisah. Rasyid dipenjara selama 14 bulan di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman dan 12 bulan di Padang, dan dibuang ke Manado, meninggal di Tondano.
Tahun 1957, Pemerintah Sumatera Tengah dengan ibukota Bukittinggi mengirim satu tim ke Lubuk Basung, untuk memberikan penghargaan atas jasa Siti Manggopoh pada Bangsa dan Negara.

Tahun 1960, Kepala Staf Angkatan Darat Jend. Nasution datang ke Manggopoh untuk menemui Siti Manggopoh. Ia mengalungkan selendang kepada Siti Manggopoh sebagai lambang kegigihan dan keberanian melawan penjajahan. Kemudian, tahun 1964, melalui Menteri Sosial, pemerintah memberikan tunjangan atas jasa kepahlawanan sebesar Rp 850,-.

Atas jasa dan keberanian melawan Belanda, Siti Manggopoh diusulkan menjadi pahlawan nasional. Selain, Siti Manggopoh, Pemerintah Kabupaten Agam mengusulkan dua pejuang perang belasteng 1908 yaitu Abdul Manan dan Datuk Radjo Penghulu (Perang Kamang).



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Siti Manggopoh (Pemimpin Perang Belasting Manggopoh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>