Sejarah Singkat Bukittinggi Era Pemerintahan Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » sejarah » Sejarah Bukittinggi » Sejarah Singkat Bukittinggi Era Pemerintahan Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan

Sejarah Singkat Bukittinggi Era Pemerintahan Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan

(2341 Views) Desember 1, 2014 9:15 pm | Published by | No comment



Penduduk asli Bukittinggi berasal dari Kurai. Penghulu Kurai membangun pasar di salah satu bukit yang paling tinggi (bukit nan tatinggi) di wilayah Nagari Kurai.

Tahun 1818 Belanda datang ke Padang, dan ikut campur konfik yang terjadi antara kaum adat dan kaum agama yang sedang berlangsung di Sumatera Barat. Belanda memihak kaum adat dan saat terjadi perang Padri tahun 1821-1837, Belanda membantu kaum adat.

Belanda membangun benteng ford de kock Benteng Ford De Kock, Meriam, dan Reservoir Kota Bukittinggi) tahun 1826, untuk menahan serangan kaum ulama. Belanda memperluas kota dari kanagarian Kurai Limo Jorong berdasarkan perjanjian dengan kaum adat. Kota berkembang menjadi tempat peristirahatan bagi opsir Belanda, karena udaranya yang sejuk. Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Bukittinggi bernama Stadsgemeente Fort de Kock, dan terkenal dengan nama Parisjs Van Sumatra,

Sketsa Kota Bukittinggi Pada Awal Pembentukan Kota

Belanda merancang kota sehingga memiliki sarana dan prasarana yang lengkap sebagai sebuah kota. Pemerintah Hindia Belanda membangun pasar sebagai pusat kegiatan, kantor, rumah pemerintah sipil, rumah rapat, kuburan, sarana dan prasarana transportasi, gereja, sekolah, tempat rekreasi dengan dibangun kebun bunga yang kemudian menjadi kebun binatang. Sebagian infrastruktur yang dibangun di masa Pemerintahan Hindia Belanda masih dimanfaatkan sampai sekarang, misalnya gedung sekolah SMAN 2, gereja, sekolah SD Fransiskus.

Februari 1942, Jepang datang dan mengganti nama jadi Bukittinggi Si Yaku Sho. Kota ini menjadi pusat pemerintahan militer ke-25 Kempetai, dipimpin oleh Mayor Jenderal Hirano Toyoji, yang menguasai kawasan Sumatera, Singapura dan Thailland.
Pada tahun itu, lubang Jepang, dibangun untuk tempat berlindung, ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang (gudang senjata). Lubang Jepang yang terbuka untuk umum dan menjadi tujuan wisata terletak di panorama. Jepang mendirikan pemancar radio terbesar yang siarannya mencapai daerah-daerah yang ada di Sumatera, untuk mempropaganda penduduk lokal.




Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945 Bukititinggi Ibukota Provinsi Sumatera, gubernur pertama, Mr, Teuku Muhammad Hasan. Bukittinggi ibu kota Republik Indonesia (Pemerintah Darurat Republik Indonesia-PDRI), tanggal 19 Desember 1948, setelah Belanda merebut yogyakarta, ibukota Indonesia.

Tahun 1956, Bukittinggi menjadi ibukota, Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi, Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau. Sekarang menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Barat, dengan ibukota Padang. Bukittiggi menjadi kota besar ke-dua setelah Padang.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Sejarah Singkat Bukittinggi Era Pemerintahan Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>