Sejarah Pasar di Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » sejarah » sejarah pasar » Sejarah Pasar di Bukittinggi

Sejarah Pasar di Bukittinggi

(2562 Views) Januari 9, 2015 4:10 pm | Published by | No comment



Pembentukan kota Bukittinggi, berawal dari pasar yang diadakan oleh penghulu Nagari Kurai di Bukit Nan Tinggi. Penjual dan pembeli datang ke bukit Nan tinggi itu setiap Hari Rabu dan Sabtu. Tempat berjualan terbuat dari kayu dan bambu dan atap rumbia atau alang-alang. Sebagian warung bagian bawah, ditutup dinding anyaman bambu. Warung hanya digunakan pada Hari Rabu dan Sabtu, saat berjualan.

Penjual yang lain meletakkan barang dagangannya di dalam wadah dari bambu (katidiang) atau di atas daun pisang. Kedatangan Belanda di Bukittinggi, membuat perubahan yang sangat signifikan pada pembangunan kota Bukittinggi. Belanda membangun infrastruktur dan mengembangkan kota sehingga banyak dikunjungi pendatang, di antaranya warga Cina dan India.

Belanda mendatarkan sebagian bukit sehingga lahan lebih luas untuk pasar. Untuk menuju ke pasar dibangun jalan dan tangga. Tahun 1890 dibangun loods -los- (bangunan panjang untuk tempat berjualan), di tengah pasar. Warga Bukittinggi menyebutnya Loih Galuang (los melengkung) karena bentuk atap setengah lingkaran.




Tahun 1896, dibangun los di bagian Timur, untuk pedagang kain dan toko kelontong (toko seperti mini market). Tahun 1900, untuk penjual daging dan ikan segar (ikan laut dan ikan darat) dibangun satu los (sekarang los lambuang, tempat jual nasi kapau). Los ini dibangun di sisi bukit sebelah Timur, agar limbah air dapat dialirkan ke selokan di bawah bukit. Lokasi los yang terletak di kemiringan, warga Bukittinggi menyebutnya pasar teleng (miring). Rumah potong sapi terletak di sisi Selatan (Jl. Pemuda), di pinggir anak sungai. Pasar ternak berada 500 m ke arah Barat.

los lambuang Bukittinggi
Tahun 1901-1909, pada masa pemerintahan Controleur Oud Agam, L.C. Westenenk, dibangun 3 los, bersebelahan dengan los galuang, satu los di Timur Laut, lokasi lebih rendah, untuk penjual ikan kering (loih maco). Sedangkan dua los lagi terletak di kaki bukit dengan lokasi agak datar dan terletak lebih rendah, dinamakan pasar bawah. Los pasar bawah membujur Utara-Selatan, sejajar, untuk penjual kelapa, beras, buah-buahan dan sayur-sayuran. Dekat stasiun kereta api, ada pasar Aua Tajungkang. Penjual diizinkan mendirikan toko.

Tahun 1923 dibangun 8 (delapan) blok rumah toko, setelah kios pedagang sisi Barat dan Timur Loih Galuang dirobohkan. Sebelah Barat, ada 4 blok sejajar (Muka Pasar), sedangkan di sebelah Timur ada 4 blok, berjajar dua (Belakang Pasar).

Belanda memberikan izin pada penjual Cina dan Keling (India) untuk mendirikan toko. Penjual Cina berada sebelah Barat (sekarang Jl. A. Yani atau kampung cina). Penjual dari India berada di sebelah Utara, dikenal dengan nama kaliang (Kampung Keling).

Pemerintah kota Bukititingi membangun pasar aur kuning, karena pasar atas tidak mampu menampung penjual. Pasar aur kuning terkenal sebagai pusat grosir, yang menjual baju muslim, karpet, dan toko kelontong. Harga di pasar aur kuning lebih murah dibanding pasar atas. Banyak pembeli dari luar kota; Padang, Sumatera Utara, Pekanbaru, dan Malaysia yang berjualan di pasar ini.

Pasar “hari Pakan” masih tetap ada di Bukittinggi. Di ateh ngarai, pasar pakan tiap hari Rabu dan Sabtu. Di daerah Birugo, tiap hari Selasa dan Jumat. Penjual berasal dari desa sekitar Bukittinggi yang menjual sayur, buah, dan ikan. Pasar mulai pukul 6:30 -11:00 WIB.

Sumber : Dari berbagai sumber.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Sejarah Pasar di Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>