Sejarah Kampung Cina dan Kampung Keling (Kaliang) : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » sejarah » Sejarah Kampung Cina dan Kampung Keling (Kaliang) » Sejarah Kampung Cina dan Kampung Keling (Kaliang)

Sejarah Kampung Cina dan Kampung Keling (Kaliang)

(2952 Views) Desember 6, 2015 10:09 pm | Published by | No comment



Bukittinggi merupakan kota terpadat di Provinsi Sumatera Barat, dengan tingkat kepadatan mencapai 4.400 jiwa/kmĀ². Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat etnis Cina, Jawa, Tamil, dan Batak. Etnis Tamil dikenal dengan etnis Keling (Kaliang).

Saya sekolah di yayasan Prayoga, sekolah swasta Khatolik, dari TK Kuntum Mekar, SD Fransiskus, dan SMP Xaverius. Teman-teman saya berasal dari etnis, Minang, Cina, Jawa, dan Batak. Jarang atau tidak ada teman saya dari etnis Keling di sekolah. Komposisi teman saya dari etnis Minang dan Cina hampir sama banyak. Setelah itu teman dari etnis Jawa dan Batak. Teman-teman dari etnis Cina dipastikan bersekolah di yayasan Prayoga, jarang (ada tapi jumlah sangat sedikit) yang bersekolah di sekolah negeri.




Ketika SMP, saat tahun baru (Imlek), saya bersama teman-teman mengunjungi rumah teman yang merayakan. Mereka bermukim di satu kawasan, Kampung Cina, berkunjung dari satu rumah teman ke rumah yang lain dekat karena berada dalam satu area. Di bagian depan digunakan untuk toko, sedangkan bagian belakang untuk rumah.

Pertumbuhan pasar yang semakin pesat di Bukittinggi menyebabkan orang Cina mulai datang dan ikut menjadi bagian dari perkembangan kota. Hampir sama di setiap kota yang ada di Indonesia, Pemerintah Hindia-Belanda mengizinkan mereka berrmukim dan membangun toko, Penjual Cina ditempatkan di kaki bukit sebelah Barat, membujur dari Selatan ke Utara. Daerah itu dikenal dengan nama Kampuang Cino (Kampung Cina/Pecinan) (Jl. A Yani).

Jalan teuku umar (kampung cino) Bukittinggi

Mungkin pada awalnya, penjual Cina mengumpulkan hasil pertanian dari penduduk di sekitar kanagarian Kurai (desa di sekitar Bukittinggi) dan menjualnya, karena beberapa toko di Bukittinggi masih menjual hasil pertanian, misalnya cengkeh dan kayu manis. Mereka menjemur hasil pertanian itu di depan toko mereka, sebelum dijual.

Penjual Keling ditempatkan di daerah kaki bukit sebelah Utara, melingkar dari arah Timur ke Barat. Daerah itu kemudian dikenal dengan nama Kampuang Kaliang (Kampung Keling).

Penjual Cina dan Keling (India) diberikan hak sewa tanah, untuk membangun toko dan rumah mereka. Kedua kawasan untuk warga Cina dan India ini berada di sekitar kaki bukit Ford De Kock. Saat ini, ada etnis Minang yang berjualan atau mempunyai rumah di kawasan di Kampung Cina, tapi masih didominasi etnis Cina.

Bangunan serba guna warga Cina di Bukittinggi



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Sejarah Kampung Cina dan Kampung Keling (Kaliang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>