Profesi Tukang Dobi yang Mulai Hilang di Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » budaya » Profesi Tukang Dobi yang Mulai Hilang di Bukittinggi » Profesi Tukang Dobi yang Mulai Hilang di Bukittinggi

Profesi Tukang Dobi yang Mulai Hilang di Bukittinggi

(1140 Views) Juni 17, 2015 9:57 pm | Published by | No comment



Saya punya etek yang dulu berprofesi sebagai tukang dobi. Tukang dobi, seseorang yang menjual jasa mensterika baju pelanggan dengan menggunakan sterika besi. Biasanya tukang dobi laki-laki karena sterika besi yang berat. Etek terpaksa menjadi tukang dobi, meneruskan usaha suaminya. Tukang dobi artinya tukang sterika.

Dua atau tiga hari sekali, ia membakar tempurung kelapa untuk diambil arangnya. Tempurung kelapa, ia minta ke penjual kelapa di pasar. Pagi hari, arang itu dibawa ke toko kecilnya di pasar bawah. Sisa arang yang ada di dalam sterika dibersihkan, arang baru disusun rapi di dalam sterika, lalu dinyalakan agar sterika panas. Proses menyalakan arang harus segera dilakukan, sebelum pelanggan datang, karena membutuhkan waktu lama memanaskan sterika besi itu.

Begitu pelanggan datang, ia bisa mensterika baju pelanggan karena sterika sudah panas. Berat setrika kira-kira 2-3 kilogram, saya pernah mencoba mengangkat, tidak sanggup. Ketika mensterika baju, tukang dobi, tidak mengangkat setrika, tapi mendorong, hasilnya rapi dan licin, cocok untuk setrika celana panjang laki-laki dan kemeja, hasil sterikanya berbeda dengan menggunakan sterika listrik.




sterika besi yang diisi arang agar panas-digunakan tukang dobi (tukang sterika)-sterika ini berat.sterika besi yang diisi arang agar panas-digunakan tukang dobi (tukang sterika)-sterika ini berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tukang dobi sangat berhati-hati menggunakan sterika ini. Ia harus menjaga, jangan sampai arang yang masih panas, terjatuh melalui lobang-lobang yang ada pada sterika, ke baju. Baju bisa terbakar.

Tahun 2014, saya tidak menemukan tukang dobi menjual jasanya. Tahun 2005, masih ada tukang dobi di pasar bawah. Satu potong kain dihargai Rp 1000-2000. Pelanggan tukang dobi ; ibu rumah tangga (khusus mensterika baju suami mereka : kemeja, celana panjang, jas), tukang jahit (setelah pakaian dijahit, tukang jahit selalu membawa hasil jahitannya ke tukang dobi untuk disterika, sehingga hasil jahitannya terlihat rapi) dan bujangan.

Etek saya bercerita, dulu tahun 1950-80an, usaha tukang sangat maju. Satu toko mempunyai beberapa orang tukang dobi (orang yang mensterika, setiap pelanggan datang, baju mereka langsung disterika dan bisa ditunggu). Sterika listrik mematikan usaha ini pelan-pelan. Padahal tukang jahit dan sebagian ibu rumah tangga di Bukittinggi masih membutuhkan jasa mereka.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Profesi Tukang Dobi yang Mulai Hilang di Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>