Perang Pajak (Perang Mangopoh dan Perang Kamang) : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » sejarah » Perang Pajak » Perang Pajak (Perang Mangopoh dan Perang Kamang)

Perang Pajak (Perang Mangopoh dan Perang Kamang)

(663 Views) Mei 27, 2016 10:19 am | Published by | No comment



Perang Paderi memberi dampak finansial yang cukup signifikan bagi Belanda. Untuk itu
awal Maret 1908 diberlakukan Peraturan Pajak terhadap mata pencaharian (kekayaan) rakyat, dan harta pusaka.

Ini memberatkan rakyat Minangkabau dan bertentangan dengan janji-janji pemerintah Belanda yang ditulis dalam Plakat Panjang tahun 1833. Peraturan Pajak yang akan dijalankan itu disebut dengan Belasting op de bedrijfsen andere inkomsten (Pajak atas penghasilan perusahaan atau penghasilan-penghasilan lain).

Peraturan baru ini berlaku untuk kaum adat dan kaum ulama. Padahal dalam peraturan terdahulu, kalangan ulama dan guru agama dibebaskan dari pajak karena tidak memiliki penghasilan tetap, penghasilan mereka tergantung dari sumbangan masyarakat. Sedangkan, pegawai negeri yang diangkat oleh pemerintah dibebaskan dari pajak.

Pajak atau Belasting terdiri dari;

1.hoofd belasting (pajak kepala),
2.inkomsten belasting (pajak pemasukan suatu barang/cukai),
3.hedendisten (pajak rodi),
4.landrente (pajak tanah),
5.wins belasting (pajak kemenangan/keuntungan),
6.meubels belasting (pajak rumah tangga),
7.slach belasting (pajak penyembelihan),
8.tabak belasting (pajak tembakau),
9.adat huizen belasting (pajak rumah adat). 




L.C. Westenenck selaku wakil pemerintahan Belanda mengumumkan peraturan ini dalam sebuah rapat dengan para Kepala Laras Agam. Pada waktu ini hampir semua Laras menolak pemberlakuan peraturan ini dengan berbagai alasan yang masuk akal.

Aturan pajak itu menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. beredar selebaran dan poster-poster yang dipasang di tempat-tempat umum untuk menggugah kembali kesadaran rakyat akan perlakuan pemerintah yang mengingkari janji-janji yang pernah ditandatangani.

Kebencian rakyat yang telah memuncak terhadap Belanda dengan peraturan pajak yang memberatkan ini semakin dibakar dengan legitimasi yang diberikan kaum ulama dengan menyerukan perjuangan terhadap kafir adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

Terjadi penolakan di berbagai wilayah di Sumatera Barat dan memakan banyak korban, perlawanan yang terjadi dikenal dengan perang pajak. Di Sumatera Barat, perang pajak yang terkenal adalah Perang Kamang dan Perang Manggopoh.

Dalam Perang Kamang, Haji Abdul Manan dan ulama-ulama Kamang lain berperan dalam mempersiapkan mental, sedangkan Datuk Rajo Penghulu seorang tokoh adat berperan dalam persiapan fisik. Di Manggopoh muncul pejuang wanita Siti Manggopoh.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Perang Pajak (Perang Mangopoh dan Perang Kamang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>