Peci Nasional Khas Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » wisata » oleh-oleh » Kupiah atau Peci » Peci Nasional Khas Bukittinggi

Peci Nasional Khas Bukittinggi

(4442 Views) Desember 25, 2014 9:09 pm | Published by | No comment



Papaku menyebutnya “kupiah”, atau peci. Papa selalu menggunakannya kalau ke luar rumah. Tahun 80-an masih banyak bapak-bapak yang mengunakan peci di Bukittinggi, tapi sekarang jarang. Pada hari Jum’at, pergi salat Jum’at masih ditemui yang memakai peci. Kadang dari rumah peci sudah dipakai, kadang dilipat dan digenggam, sampai di Mesjid dipakai.

Peci, Kupiah Nasional Khas Bukittinggi.

Selain untuk salat Jum’at, bapak-bapak memakai peci saat acara adat, dipadu dengan jas, baju putih, dan kain sarung. Dulu, tahun 50-an, peci dipadu dengan baju putih dan celana batik. Peci juga dipakai saat acara lamaran, pernikahan dan selamatan, misalnya menghuni rumah baru, tuan rumah memakai peci untuk menyambut tamu. Ustad yang memberikan ceramah di mesjid juga mengunakan peci, sebagian, sebagian yang lain menggunakan sorban.




Toko yang menjual peci, H. Muhtar Is, tokonya di pasar atas, tepatnya di Jl. Minangkabau, sebelah kanan di ujung. Lalu, Z. Sjarbaini, juga di jalan Minangkabau. Ada peci Gumarang. Hm….rasanya hanya dua toko itu. Tapi tahun 2014, saat pulang lebaran, saya tidak menemukan lagi toko H.Muhtar Is, berganti dengan toko lain. Toko H. Muhtar Is, berada di belakang toko yang lama. Di pasar Bawah ada, satu toko yang menjual peci.

Peci Bukittinggi, berwarnna hitam kelam, kainnya beludru, jahitannya rapi, di dalam peci ada merek peci. Setiap membeli peci, selalu dimasukkan ke dalam kotak agar bentuk peci utuh, tidak berubah bentuk, begitu juga setelah digunakan. Biasanya, papaku sekali-kali membersihkan debu pada peci menggunakan sikat halus. Kalau sudah lama digunakan, sebagian beludru di bagian pinggir atas peci rontok, dan bentuk peci tidak kaku seperti pertama dibeli, agak lentur. Satu hal yang perlu diperhatikan, jangan sampai air menyentuh peci, setetes tak apalah, bisa kering sendiri, tapi kalau basah, wah….sudah dapat dipastikan peci berubah bentuk, karena bagian dalam peci terbuat dari kertas….(sepertinya) dan kain beludru, jika kering tidak akan bagus seperti semula.

Peci, Kupiah, Khas Bukittinggi.

Peci produksi Bukittinggi tidak mempunyai motif atau tambahan ornamen, hanya beludru warna hitam, hitam pekat, dengan harga 200-300 rupiah, tergantung kualitas. Ukuran peci antara 7-10 tergantung ukuran kepala, bisa dicoba sebelum membeli. Peci akan terlihat “pas” jika menggantung di kepala, artinya pada saat dipakai ada ruang antara kepala dan bagian atas peci. Ujung peci bagian depan, terletak kira-kira 2 cm di atas alis mata. Peci tidak ada lubang udara, seperti topi baseball, jadi jika digunakan terlalu lama, kepala terasa panas, harus sering-sering dilepas.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Peci Nasional Khas Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>