Pacu Kuda di Bukit Ambacang Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Pacu Kuda di Bukit Ambacang Bukittinggi

Pacu Kuda di Bukit Ambacang Bukittinggi

(2180 Views) Januari 29, 2016 4:46 am | Published by | No comment



Pada salah satu scene film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, karya Hamka, ada adengan di arena pacuan kuda Bukit Ambacang. Setting film tersebut sekitar tahun 1900, pada masa pemerintahan Belanda. Lokasi pacu kuda pada film tersebut masih asli. Saya memperhatikan tribun di bagian tengah dan di pinggir arena pacu kuda. Bangunan itu sesuai dengan masa setting film tersebut.

Pacuan kuda di Bukittinggi sudah terselenggara sejak tahun 1889. Belanda membawa tradisi pacuan kuda ke Bukittinggi, seperti tradisi pacuan kuda di kota-kota lain di Indonesia. Pada masa Belanda, acara pacuan kuda digunakan untuk kegiatan politik gerilya oleh penjuang Minang, mereka bertemu dan memberikan infomasi rahasia tentang perjuangan merebut kekuasaan dari tangan penjajah. Pejuang bekerja sama dengan penjual makanan dan minuman yang selalu ada pada saat acara pacuan kuda berlangsung. Acara pacu kuda merupakan acara yang ditunggu-tunggu oleh semua warga Bukittinggi dan kota-kota di sekitarnya. Mereka beramai-ramai datang untuk menyaksikan acara itu, baik perorangan maupun berkelompok.




Saya pernah sekali menyaksikan pacuan kuda di Bukit Ambacang, sekitar tahun 80-an. Penonton VIP duduk di tribun, sedangkan penonton yang lain melihat kuda berpacu dari sisi gelanggang. Peserta lomba berasal dari Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, Padang, dan kota lain di sekitar Bukittinggi.

Arena pacuan kuda Bukit Ambacang tidak berubah dari tahun ke tahun. Mungkin tribun tersebut dibangun pada masa pemerintahan Belanda, karena terihat lama. Di tengah arena terdapat tribun berbentuk segi delapan. Penonton mengelilinggi sisi luar arena pacu, hanya sedikit bagian terdapat tribun yang terlindung oleh atap, sisanya, penonton harus rela menyaksikan pacuan kuda di bawah terik sinar matahari.

Acara pacuan kuda tidak membutuhkan waktu lama, tergantung berapa banyak kuda yang akan berlomba pada hari itu. Semakin banyak kuda yang akan berlomba, semakin lama waktu yang dibutuhkan menyelesaikan pelombaan. Akan tetapi, perlombaan hanya membutuhkan waktu 1 hari. Pada sore hari, penonton sudah mendapatkan hasil kuda yang juara pada hari itu.

Pada acara tersebut hanya diselenggarakan pacu kuda, tidak ada perlombaan ketangkasan berkuda (equestrian).



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Pacu Kuda di Bukit Ambacang Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>