Suasana Mudik Lebaran di Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » Suasana Mudik Lebaran di Bukittinggi

Suasana Mudik Lebaran di Bukittinggi

(1174 Views) November 8, 2014 9:15 pm | Published by | No comment



Bukittinggi sepi pada Bulan Ramadan, termasuk hari Sabtu dan Minggu. Tapi dua hari sebelum Lebaran (orang Bukittinggi sebut Hari Rayo), pasar pabukoan (pasar bulan Ramadan yang di pasar atas) ramai. Itu tanda, pemudik dari luar kota mulai berdatangan dan kamar hotel terisi penuh. Pada hari Lebaran dan seminggu kemudian, Bukittinggi ramai dan macet.

Dari mana mereka? Sebagian besar pemudik yang bersilaturahmi dengan orang tua/keluarga yang bermukim di Bukittinggi. Mereka datang membawa semua anggota keluarga. Rumah yang biasanya menampung satu keluarga terpaksa mengakomodasi 4-5 keluarga selama seminggu. Sebagian lagi pemudik yang berasal dari desa sekitar Bukittinggi dan menghabiskan waktu di Bukittinggi. Wisatawan dari Pekanbaru, Riau, Medan, Jakarta menambah penuh kota. Mereka berkumpul di bawah jam gadang, di Plaza Bukittinggi, Panorama, kebun binatang, benteng Ford de Kock.




Harga hotel naik, sehingga tamu hotel harus memesan, satu atau dua bulan sebelum Ramadan, tamu hotel menginap 2-3 hari bersama keluarga. Tapi, ada juga tamu yang tidak punya rencana menginap di Bukittinggi. Tamu hotel mencari penginapan, setelah pukul 19: 00 WIB. Ada wisatawan yang tidak mendapat penginapan atau memutuskan tidur di mobil. Mereka parkir di sekitar jam gadang, pagi hari mereka sarapan di atas tikar di dekat mobil.

Harga makanan naik, pical sikai dan rujak, naik Rp. 1000. Harga makanan di restoran siap saji, KFC dan Pizza Hut, normal, tapi harus antri untuk mendapatkan kursi.

Selama lebaran toko tetap buka, tutup hanya saat salat ied. Setelah salat Idul Fitri, semua toko buka. Di Bukittinggi, tidak pernah ada toko tutup, selalu buka, kecuali apotik. Di kawasan kampung cina, toko tutup lebih lama, pukul 22:00 WIB. Sedangkan, di pasar atas, toko tutup pukul 17:00 WIB (Magrib pedagang sudah di rumah).

jam gadang di depan pasar atas.

Plaza jam gadang
Pengunjung ramai di beberapa titik wisata (jam gadang, pasar atas, panorama, benteng Ford de Kock) menyebabkan kemacetan dan kerumunan yang luar biasa. Saya kira, pemerintah kota harus menemukan tempat baru yang menjadi daya tarik tertentu agar pengunjung menyebar, tidak ramai di beberapa titik wisata saja. Pemerintah kota bisa dengan membuat pusat kuliner khas Bukittinggi di lapangan Wirabraja atau pengembangan kawasan panorama baru. Pemerintah kota juga dapat membuat acara di tempat tujuan wisata, sehingga pengunjung dapat tinggal lebih lama di lokasi tempat wisata itu, misalnya mengadakan acara kesenian di panorama, benteng, kebun binatang, sehingga pengunjung tidak cepat berpindah dari satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Suasana Mudik Lebaran di Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>