Jam Gadang, Titik Pertemuan di Kota Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » wisata » Tujuan wisata » Jam Gadang, Titik Pertemuan di Kota Bukittinggi

Jam Gadang, Titik Pertemuan di Kota Bukittinggi

(865 Views) November 10, 2014 8:41 pm | Published by | No comment



Jam Gadang, icon kota Bukittinggi. Di bawah jam gadang, tempat semua orang berkumpul, foto-foto, berjualan, duduk di taman, makan dan minum di taman, melakukan pertunjukan (saluang), dan parkir Bendi. Pada pagi hari (06:00-07:00 WIB), plaza dijadikan tempat berolah raga. Di tempat ini pernah menjadi, tempat shooting film, salah satunya, film Negeri 5 Menara. Jam gadang menjadi titik pertemuan di kota Bukittinggi.

Plaza jam gadang

Jam gadang terletak di dataran paling tinggi di kota ini. Jika kita berada di atas jam gadang, tampak seluruh kota Bukittinggi, dengan latar belakang gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Jam gadang merupakan hadiah dari Ratu Belanda ke sekretaris kota tahun 1926, dibawa dari Amsterdam, Belanda, melalui pelabuhan teluk Bayur, Padang. Kemudian, seorang opzichter bernama Sutan Gigi Ameh merancang bangunan jam gadang, sehingga seperti sekarang ini. Jam berbentuk bulat ini menggunakan angka romawi, tapi tidak seperti angka romawi pada umumnya yang menunjukkan angka empat dengan simbol IV, pada jam gadang angka empat bersimbol empat buah garis, IIII, jelas terlihat dari bawah di keempat sisi jam yang berdiameter 80 cm ini.

Atap jam gadang berganti-ganti, berdasarkan penguasa yang ada pada saat itu. Pada saat Belanda masih menguasai Bukittinggi, atap berbentuk seperti dome (bulat) dengan patung ayam jantan yang menghadap ke Timur. Pada masa Jepang berbentuk piramid-limasan-, dinamakan Tsuan Tsien, dan masa kemerdekaan berganti menjadi empat gonjong pada ke empat sisinya, lengkap dengan ukiran.




Pada masa Belanda, taman di sekitar jam gadang, mengikuti konsep taman eropa : pohon, rumput, pola jalur setapak dari empat sisi menuju kolam besar di bagian tengah. Tahun 1980 an, konsep ini masih terlihat jelas, masih terdapat kolam besar walau sudah tidak ada air di dalamnya. Tetapi kemudian terjadi perubahan besar pada ruang terbuka di bawah Jam Gadang, renovasi tahun 2010. Konsep taman gaya eropa, dengan hamparan rumput, pohon dan, kolam berganti menjadi plaza, tanaman berbunga, dan tempat duduk dari beton. Pohon beringin besar masih dipertahankan.

Jika lebaran datang, beberapa pedagang kaki lima yang menjual T-Shirt, gantungan kunci, mainan anak-anak, tidur di bawah jam gadang. Mereka berasal dari desa/kota sekitar Bukittinggi, yang tidak mendapatkan penginapan, atau tidak mendapat kendaraan ke desa/kota masing-masing.

zaman kemerdekaan (atap gonjong)
Zaman Jepang (atap Tsuan Tsien)
Zaman pemerintahan Hindia-Belanda atap seperti dome dengan patung ayam mengarah ke Timur



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Jam Gadang, Titik Pertemuan di Kota Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>