Hubungan Antara Surau dan Merantau : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Budaya sejarah » budaya » Hubungan Antara Surau dan Merantau » Hubungan Antara Surau dan Merantau

Hubungan Antara Surau dan Merantau

(512 Views) Januari 22, 2017 2:40 am | Published by | No comment





Surau tempat yang memberikan peran yang sangat besar bagi kehidupan anak muda laki-laki Minang. Setelah memasuki usia remaja (akil baliq), anak laki-laki harus tidur di surau. Mereka tidak diizinkan untuk tidur di rumah gadang, karena rumah gadang diperuntukan bagi kaum wanita. Surau terletak di lingkungan kampung, sehingga setiap saat, mereka bisa pulang ke rumah orang tua/rumah gadang untuk berkunjung.

Di surau mereka belajar mandiri, bersosialisasi, dan menerima kondisi apa adanya. Tidak ada perlengkapan tidur yang memadai di surau, seperti kasur dan bantal. Mereka tidur berselimut sarung dan berbagi tempat tidur dengan teman sebaya. Sebelum subuh mereka harus bangun untuk Salat Subuh berjamaah, membaca al Quran, dan mendengar ceramah dari ustad/imam.




Mereka belajar mempersiapkan diri untuk menempuh kehidupan dan mendapatkan petuah, bahwa segala sesuatu itu dimulai dari bawah. Nasehat dari orang-orang tua yang belum tentu mereka dapatkan di rumah gadang.

Belajar membaca al Quran dan ilmu agama, belajar membawakan diri, belajar bertutur kata dan menggunakan kata-kata yang baik. Salah satu adat Minang adalah kepandaian dalam mengolah kata, berpetatah petitih, berpersembahan, berpidato, dan bersilat lidah. Kepandaian mengolah kata selalu digunakan dalam setiap kegiatan adat ; dalam pernikahan, mengangkat pemimpin suku, dan dalam rapat-rapat adat dan suku/nagari. Selain itu, berkomunikasi dengan kata-kata yang santun merupakan modal untuk pergi merantau.

Selain mendapatkan ilmu agama, belajar pengetahuan umum, dan santun dalam berkata-kata, anak muda Minang dilatih bela diri silat. Mereka harus siap untuk membela diri dan menangkis serangan yang mungkin didapatkan selama merantau.

Untuk mengisi waktu lowong, mereka belajar kesenian Minang, antara lain meniup saluang, randai (cerita klasik yang menggunakan gerakan silat) dan berdendang. Sore dan malam hari merupakan waktu untuk belajar silat dan berkesenian.

Jika ilmu yang diperoleh sudah mencukupi untuk memulai kehidupan yang baru di negeri orang, dan siap untuk pergi merantau, mereka diminta untuk mempertunjukan kebolehannya dalam bersilat.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Hubungan Antara Surau dan Merantau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>