Galanggang Lapangan Untuk Adu Ketangkasan di Minang : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » arsitektur » arsitektur publik » Galanggang Lapangan Untuk Adu Ketangkasan di Minang » Galanggang Lapangan Untuk Adu Ketangkasan di Minang

Galanggang Lapangan Untuk Adu Ketangkasan di Minang

(32 Views) Januari 22, 2020 10:24 am | Published by | No comment

Di setiap nagari terdapat galanggang yang digunakan untuk tempat berkumpul. Di Bukittinggi, galanggang yang terkenal Bukik Ambacang, tempat adu ketangkasan berkuda. Galanggang ini sudah ada sebelum zaman Belanda, kemudian Belanda memfasilitasinya dengan membangun gardu pandang di bagian tengah dan podium di salah satu sisi galanggang, untuk penonton.

Secara fisik galanggang berupa lapangan yang luas dan datar, terletak jauh dari pemukiman penduduk, dan lapangan itu hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu. Area yang sangat luas diperlukan karena semua kegiatan akan berlangsung dalam waktu singkat, sehingga harus bisa menampung semua kegiatan lomba, adu ketangkasan, jual beli, dan acara kesenian. Selain itu, penonton datang dalam jumlah besar dari berbagai nagari.



Galanggang tidak menyediakan fasilitas khusus untuk penonton, atau fasilitas untuk pedagang berupa kios-kios, hanya lapangan yang luas. Orang atau sekelompok orang yang datang duluan yang menempati lahan untuk melakukan kegiatan, misal adu ketangkasan atau kesenian. Orang/kelompok yang datang kemudian mengisi lahan yang kosong di lapangan. Penonton menyaksikan di sekitar acara yang mereka suka. Perlombaan yang biasa dilakukan anak laki-laki adu layang-layang. Ada yang mengadu hewan peliharaan, misal bebek, kuda, dan kerbau. Acara kesenian antara lain pencak silat, tari piring, randai, saluang, dan masih banyak lagi. Selain itu galanggang juga digunakan untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan ; antar seusia atau dari orang tua ke yang muda. Mereka yang melakukan kegiatan berasal dari anak nagari di sekitar galanggang atau nagari yang lebih jauh. Ada anak muda, dewasa, atau orang tua.

Kegiatan di galanggang biasanya dilaksanakan setelah panen, masa istirahat. Sebelum dilaksanakan kegiatan di galanggang, pemangku adat akan bermusyawarah. Pada zaman dulu, penonton laki-laki dan wanita akan terpisah secara spontan. Laki-laki memilih untuk berkegiatan atau menonton acara perlombaan adu ketangkasan, sedangkan penonton wanita, memilih kegiatan kesenian. Dalam keramaian pasti ada jual beli. Area perdagangan terletak di pinggir lapangan.

Galanggang menggambarkan kemajuan/kesejahteraan nagari, semakin maju sebuah nagari semakin banyak mengadakan acara perlombaan dan adu ketangkasan, semakin banyak anak nagari yang datang sebagai peserta, penonton, dan pelaksana acara.




This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Galanggang Lapangan Untuk Adu Ketangkasan di Minang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>