Datuk (Datuak) Pemimpin Kaum : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » Nagari di Agam » balingka » Datuk (Datuak) Pemimpin Kaum » Datuk (Datuak) Pemimpin Kaum

Datuk (Datuak) Pemimpin Kaum

(681 Views) Maret 11, 2016 1:30 am | Published by | No comment



Seorang laki-laki, sah menjadi datuk (datuak/penghulu) apabila telah dinobatkan di Kantor Kerapatan Adat Nagari. Setelah itu, ia akan mengemban tugas menjaga adat seumur hidup.

Proses menjadi datuk merupakan proses yang panjang. Apabila datuk meninggal, maka ninik mamak, bundo kanduang, dan panungkek (wakil datuk sebelum) akan berunding. Datuk berikut berasal dari keturunan keluarga yang mana? Karena, jabatan datuk digilir dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain, di dalam kaum itu. Setiap keluarga (bukan keluarga inti, tapi keturunan keluarga yang lebih besar) akan mendapat giliran, salah seorang anak laki-laki dari keluarga itu harus menjadi datuk dan disetujui oleh anggota keluarga dan warga kaum. Datuk, ninik mamak, dan bundo kandung, merupakan tokoh sentral dalam kebudayaan Minang.

Dalam acara batagak panghulu (penobatan) di Balingka. Datuk dijemput dari rumah gadang (rumah keluarga) lalu diarak menuju Kantor Kerapatan Adat Nagari Balingka. Acara batagak panghulu ini dilakukan serentak (tidak 1-2 datuk, tapi bisa 20-25 datuk), agar semua orang dari rantau dapat hadir dan menyaksikan prosesi tersebut. Karena, pesta batagak panghulu merupakan pesta yang ditunggu-tunggu oleh semua anggota keluarga dan warga kaum.




Gelar datuk diwariskan secara turun -temurun kepada anak laki-laki dari keturunan ibu. Anggota keluarga yang akan diangkat jadi datuk harus mempunyai kualitas diri yang baik dan menjadi taulan bagi kaum. Ia harus mampu menyelesaikan masalah adat yang terjadi pada warga kaum, disetujui oleh semua pihak di dalam kaum, dan bersedia memegang jabatan sebagai datuk seumur hidup. Datuk tidak bisa diberhentikan, tapi jika ingin mengundurkan diri karena alasan, sakit atau alasan lain, hal itu dapat dilakukan. Datuk mempunyai panungkek (wakil) yang membantu datuk dalam menyelesaikan persoalan kaum.

Dalam prosesi penobatan datuk, ketua KAN memberikan petatah petitih sebagai nasehat bagi datuak dalam memikul tanggung jawab adat. Setelah itu, penobatan datuk diresmikan melalui upacara penyerahan keris dan tongkat warisan keluarga.

Pada saat penobatan, datuak yang baru akan menunjukkan kemampuan memahami filosofi adat. Mereka dibawa ke medan nan balinduang, tempat tertutup untuk beradu pendapat dalam bentuk pantun. Lalu, datuk makan bajamba (makan bersama-sama dalam satu wadah) dengan para hadirin. Setelah acara selesai, bundo kanduang dan istri datuak menjemput (Manjapuik) datuk dari kantor KAN untuk dibawa pulang ke rumah gadang, dan diarak keliling kampung.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Datuk (Datuak) Pemimpin Kaum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>