Danau Maninjau dan Pantun Soekarno : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Nagari di Agam » danau maninjau » Danau Maninjau dan Pantun Soekarno

Danau Maninjau dan Pantun Soekarno

(2346 Views) Januari 16, 2015 9:42 pm | Published by | No comment



Jangan dimakan arai pinang,
Kalau tidak dengan sirih hijau.
Jangan datang ke Ranah Minang,
Kalau tidak singgah ke Maninjau.

Soekarno, Juni 1948 (sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Lake_Maninjau)

Keindahan Danau Maninjau tidak diragukan lagi, presiden pertama Indonesia Soekarno mengakuinya. Ia menulis pantun untuk mengambarkan keindahan danau maninjau.

Pada acara Tour de Singkarak yang diadakan rutin setiap tahun pada bulan Juni, sejak 2009, Danau maninjau terpilih menjadi salah satu jalur yang dilalui pesepeda international. Dari Bukittinggi, melalui kelok 44 menuju Danau Maninjau.

Danau Maninjau terbentuk karena letusan gunung, terletak di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas danau Maninjau 99,5 km² dan kedalaman maksimum 495 meter. Air Danau Maninjau digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air, untuk wilayah Sumatera Barat.

Danau maninjau dapat dicapai dari arah Bukittinggi sejauh 36 km dan dari arah Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam (jalan mendatar). Paling bagus menuju danau Maninjau dari arah Bukittinggi, karena menurun dan dapat melihat pemandangan danau dari ketinggian.




Dari Bukittinggi melalui kelok 44. Nama kelok 44 karena tikungannya berjumlah 44, dan jalan menurun. Kendaraan yang melalui jalur kelok 44 harus hati-hati, karena di sebelah jalan terdapat jurang. Di beberapa titik tikungan terdapat rest area, yang dibangun untuk menikmati keindahan danau Maninjau.

Danau dikelilingi oleh sawah dan bukit, hamparan sawah di sekitar danau, sangat indah, jalur jalan tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Mengelilingi danau dengan bersepeda pada sore atau pagi hari, sangat menyenangkan karena udara yang sejuk. Di pinggir danau danau banyak keramba ikan yang mengurangi keindahan danau.

Buya Hamka, ulama besar Indonesia, yang menulis Tafsir Al Azhar, lahir di salah satu desa di sekitar danau Maninjau, yaitu Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Tahun 2000, museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, dibangun, menghadap danau maninjau.

Ikan bilih dan “rinuak” ikan kecil-kecil khas danau maninjau, merupakan ikan khas Danau Maninjau, patut dicoba. Rinuak, biasanya digoreng setelah diberi bumbu. Ribuak yang dikeringkan, ada dijual di Bukittinggi, siap goreng.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Danau Maninjau dan Pantun Soekarno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>