Batu Batikam (Batu yang Ditikam dengan Keris) di Batu Sangkar : jamgadang04
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » wisata » Batu Batikam (Batu yang Ditikam dengan Keris) di Batu Sangkar » Batu Batikam (Batu yang Ditikam dengan Keris) di Batu Sangkar

Batu Batikam (Batu yang Ditikam dengan Keris) di Batu Sangkar

(662 Views) Agustus 24, 2017 4:05 am | Published by | No comment



Lokasi batu batikam di nagari Limo Kaum, daerah Batu Sangkar, terletak di pinggir jalan menuju ke Istano Basa Pagaruyuang. Tujuan wisata sejarah dan adat ini tidak banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pada saat saya ke sana, kira-kira pukul 15:00 WIB, hanya ada dua orang yang mengunjungi tempat itu. Sarana wisata tidak tersedia ; tempat parkir, tempat istirahat, dan kantin. Kami parkir di pinggir jalan, dan menyeberang menuju lokasi. Masuk dari pintu depan, tidak ada penjaga, hanya ada papan petunjuk dan papan yang menjelaskan sejarah batu batikam.

Komplek ini terdiri dari beberapa area ; tempat batu batikam, ruang pertemuan (Medan Nan Bapaneh), dan kuburan tua. Ada dua pohon beringin yang sangat besar. Tempat batu batikam dan Medan Nan Bapaneh berada dalam satu area, sedangkan kuburan berada di sisi yang lain. Jalur menuju kuburan tidak terawat dan tidak dirancang sebagai tempat wisata.




Pada papan yang menjelaskan makna situs batikam tertulis : Situs Batu Batikam. Luas situs 1.800 M2. Dulu berfungsi sebagai Medan Nan Bapaneh, tempat bermusyawarah kepala suku. Susunan batu seperti sandaran tempat duduk, berbentuk persegi panjang melingkar. Pada bagian tengah terdapat batu batikam (batu berlubang) dari bahan batu andesit. Batu ini berukuran 55 x 20 x 45 cm, berbentuk hampir segitiga. Menurut kepercayaan tradisional Minangkabau, batu ini berlubang karena ditikam oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang sebagai tanda berakhirnya perselisihan dengan Datuak katumanggungan mengenai soal adat.

batu batikam ditikam dengan keris sampai tembus ke bagian belakang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Datuak Parpatiah dan Datuak Katumangguangan bersaudara satu ibu berbeda bapak. Bapak Datuak Parpatiah nan Sabatang, seorang cerdik-pandai, sedangkan bapak Datuak Katumangguangan, seorang raja. Datuak Parpatiah, menginginkan masyarakat diatur secara demokratik dalam bahasa Minang, “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Sedangkan, Datuak Katumangguangan, menginginkan rakyat diatur dalam sebuah tatanan yang “berjenjang naik, bertangga turun” (hierarkhial). Perbedaan yang menjadi perdebatan dan pertikaian. Setelah beberapa tahun kemudian, kedua saudara ini sepakat untuk mengakhiri pertikaian untuk kepentingan masyarakat. Batu batikam menjadi situs berakhirnya pertikaian antar saudara itu.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Batu Batikam (Batu yang Ditikam dengan Keris) di Batu Sangkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>