Arsitektur Surau Baitul Jalil di Janjang 40 Bukittinggi : jamgadang04
Menu Click to open Menus
Home » arsitektur » arsitektur publik » Arsitektur Surau Baitul Jalil di Janjang 40 Bukittinggi » Arsitektur Surau Baitul Jalil di Janjang 40 Bukittinggi

Arsitektur Surau Baitul Jalil di Janjang 40 Bukittinggi

(623 Views) Desember 2, 2017 1:16 am | Published by | No comment



Pada suatu waktu, tahun 1980, saya dan papa melewati janjang 40, papa menunjuk sebuah rumah tua, mengatakan bahwa pemilik rumah itu masih ada hubungan keluarga dengan keluarga kita (dari pihak papa). Pada saat itu, saya tidak bertanya lebih lanjut bagaimana hubungan keluarga kami dan keluarga pemilik rumah tua itu, karena di Minang, hubungan keluarga tidak hanya keluarga inti, tapi keluarga yang lebih besar, bahkan satu suku atau kampung dapat disebut keluarga.

Sejak itu, saya sering memperhatikan rumah tua itu, dan setelah lama tidak pulang ke Bukittinggi, saya menyadari bahwa rumah tua yang ditunjuk papa, pada saat saya kecil telah berubah wujud menjadi surau Baitul Jalil.

Surau Djall dirancang oleh Ir. Timmy Setiawan. Surau yang memiliki kapasitas 250 orang jamaah dibangun tahun 2004. Tahun 2011, surau ini menerima penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk kategori Bangunan Umum Publik. Tanda penghargaan itu ditempel pada salah satu dinding di dekat pintu masuk. Ini merupakan kebanggaan bagi kota Bukittinggi, karena salah satu bangunan di kota ini menang penghargaan IAI.

Lahan surau Jalil terletak pada lahan berkontur, arsitek menempatkan surau di bagian atas dan ruang lain (kantor dan kamar pada kontur di bagian bawah). Batas atas (atap/dek) dari kantor yang terletak di kontur bagian bawah, tidak melebihi dari batas bawah (lantai) surau. Ini memberikan kesan bahwa bangunan utama yaitu surau, merupakan bangunan yang sangat signifikan pada lahan tersbut, tidak ada ruang lain yang lebih tinggi atau menyamainya.




Surau Baitul Jalil janjang 40 Bukittinggi.

Arsitek mengadopsi surau khas Minang dalam perancangannya dan menyesuaikan dengan “waktu (2004)” pada saat surau itu dibangun, tapi jiwa surau khas MInang tetap terasa, antara lain ;

1) Bentuk surau persegi empat (kubus), dan menghadap kiblat, sehingga posisi bangunan dengan pagar tapak, miring.
2) Atap limas, tapi di bagian ujung melentik pada ke-empat sisinya, saya belum menemukan ornament dengan bentuk lentik seperti itu pada ornamen khas Minang.
3) Ada kolam ikan kecil di bagian depan, mempresentasikan empang (kolam) yang selalu ada di depan surau.



This post was written by safitri ahmad
About

Saya arsitek lansekap dan urban planner, lahir dan besar di Bukittinggi. Sekarang di Jakarta dan sibuk dengan menulis arsitektur lansekap dan arsitektur, serta mengerjakan proyek arsitektur lansekap dan kajian perkotaan. Buku pertama saya "Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik."

No comment for Arsitektur Surau Baitul Jalil di Janjang 40 Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>